Selama 15 tahun Tanoker Ledokombo konsisten merawat gerakan pemberdayaan yang berfokus pada pengasuhan gotong royong. Selama itu pula lahir banyak SDM yang membentuk perubahan dari desa.
MEGA SILVIA, Ledokombo – Radar Jember
RAGAM Pengasuhan Gotong Royong yang Melintas Batas, sebuah buku tentang cerita perubahan dari desa. Hal itu adalah bukti nyata bahwa pengasuhan gotong royong bisa dilakukan bersama.
Buku yang baru saja diluncurkan, Selasa (15/10), itu bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).
Ditulis oleh Direktur Tanoker Farha Ciciek, Pengurus Tanoker Sisillia Velayati, Pengasuh Pesantren Shafiyah Nurun Sariyah, dan Project Officer Tanoker Nurhadi.
Dalam buku setebal 223 halaman itu dituliskan berbagai cerita pengalaman pengasuhan gotong royong yang sudah dilakukan sejak 2009 silam hingga kini.
Bagaimana pekerja migran di Kecamatan Ledokombo yang melakukan proses migrasi secara terpaksa (forced migration). Kemudian, memicu dan memacu berbagai problematika sosial. Satu di antaranya lahirnya anak-anak yatim piatu sosial.
Ciciek mengatakan, model pengasuhan gotong royong menjadi sebuah aset untuk membangun generasi sehat dan berdaya. Di dalam buku tersebut, dia mengajak seluruh masyarakat Jember untuk ikut menerapkannya di desa atau dusun masing-masing. “Anakmu anakku, anak kita semua,” begitu katanya dalam acara launching buku tersebut.
Tak hanya membuahkan cerita perubahan dalam sebuah buku yang dicetak dan bisa diakses oleh publik di website Tanoker. Cerita pengembangan pengasuhan gotong royong itu juga diabadikan dalam sebuah video dokumenter. Anak-anak, bok-ebok, pak-bapak, yang-eyang, hingga pesantren hadir di dalamnya.
Dokumentasi yang bisa menjadi solusi alternatif dalam pengasuhan anak yang ditinggalkan orang tuanya sebagai pekerja migran Indonesia (PMI).
Baca Juga: Terkuak! Kasus Pencabulan di Panti Asuhan Darussalam An-Nur Tanggerang: 12 Anak Jadi Korban
Disebutkan, model pengasuhan tersebut telah diterapkan secara adaptif di beberapa pesantren seperti At Tanwir Jember, Nurussalam Bondowoso, dan As-Shofiyah Banyuwangi. Ciciek berharap, nantinya juga bisa direplikasikan di berbagai daerah.
“Mari kita terus mengasah empati untuk melangsungkan aksi yang terus bermanfaat dan penuh kearifan lokal untuk kita semua,” ucap perempuan kelahiran Ambon itu. (sil/c2/dwi)
Editor : Dwi Siswanto