HALOJEMBER- Bapak presiden republik Indonesia yang ke 7 bapak jokowi melakukan tradisi jawa yaitu “Munggah Molo”. Pada istana Negara yang ada di ibu kota nusantara yang merupakan ibu kota Negara yang baru, pada pelaksanaan nya bapak presiden memasang baut yang berwarna emas baut tersebut bukan hanya sekedar warna eman namun emas asli 24 karat.
Sejak zaman dahulu, daerah Jawa Tengah sudah sangat dikenal dengan berbagai tradisi dan kearifan lokal yang tumbuh subur dalam kehidupan masyarakatnya.
Kearifan-kearifan ini tidak hanya terwujud dalam perilaku sosial, tetapi juga tertanam dalam hubungan manusia dengan alam sekitar.
Keunikan budaya Jawa Tengah ini tak lepas dari nilai-nilai luhur yang menjunjung tinggi kesopanan, keharmonisan, serta rasa hormat terhadap alam dan Tuhan.
Budaya ini sudah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat dan masih terpelihara hingga kini, menjadi suatu identitas yang membanggakan bagi mereka yang menganut dan melestarikannya.
Salah satu aspek budaya yang cukup menarik untuk dikaji adalah bagaimana masyarakat Jawa Tengah memperlakukan hal-hal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah kebutuhan akan tempat tinggal.
Tempat tinggal, atau rumah, merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia. Bagi masyarakat Jawa Tengah, proses pemilihan dan pembangunan rumah bukan hanya sekadar masalah fisik, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang mendalam.
Pembangunan rumah dalam budaya Jawa Tengah tidak hanya mempertimbangkan aspek fungsional, tetapi juga diwarnai dengan simbolisme dan ritual yang memiliki makna filosofis.
Salah satu ritual adat yang paling khas terkait dengan pembangunan rumah adalah Upacara “Munggah Molo”.
Upacara Munggah Molo adalah sebuah tradisi yang melibatkan serangkaian ritual sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia yang telah diberikan, khususnya berkaitan dengan rezeki yang digunakan untuk membangun tempat tinggal.
Meskipun upacara ini sangat kental dengan nilai-nilai keagamaan, ia juga merupakan hasil akulturasi budaya antara budaya Jawa dan agama Islam.
Dalam Islam, ajaran mengenai syukur sangat ditekankan, seperti yang tercantum dalam Surah Ibrahim ayat 7 yang menyatakan bahwa "Jika kamu bersyukur, maka Aku akan menambah nikmat kepadamu".
Sementara itu, dalam adat Jawa Kuno, sesaji atau persembahan adalah bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan atas segala karunia-Nya.
Akulturasi kedua budaya ini menghasilkan sebuah tradisi yang terus dilestarikan meskipun sebagian besar masyarakat Jawa Tengah kini memeluk agama Islam.
Proses upacara Munggah Molo sendiri dilakukan ketika seseorang atau keluarga baru selesai membangun rumah mereka.
Biasanya, sesaji akan diletakkan di tempat tertentu di rumah yang baru, dengan harapan agar rumah tersebut diberkahi dan dilindungi dari segala marabahaya.
Ritual ini juga melibatkan doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan, keharmonisan, dan kesejahteraan penghuni rumah tersebut.
Hal ini menunjukkan betapa masyarakat Jawa Tengah sangat menghargai nilai-nilai spiritual dan filosofis dalam setiap langkah kehidupannya, termasuk dalam hal yang mungkin dianggap sederhana oleh sebagian orang, yaitu pembangunan rumah.
Bagi masyarakat Jawa Tengah, rumah bukan sekadar tempat berteduh atau berlindung dari cuaca. Rumah adalah simbol kesejahteraan, keberkahan, dan tempat untuk membangun keluarga yang harmonis.
Dalam tradisi Jawa, tempat tinggal juga dianggap sebagai ruang sakral yang harus dihormati dan dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Oleh karena itu, upacara Munggah Molo menjadi sangat penting, karena ia bukan hanya sekadar upacara untuk merayakan pembangunan rumah, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan Tuhan Yang Maha Esa.
Melalui ritual seperti ini, masyarakat Jawa Tengah tidak hanya menjaga hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan alam dan sesama, sebuah bentuk kearifan lokal yang patut untuk dipertahankan dan dilestarikan agar tidak punah ditelan zaman.
Penulis : Ahmad Rofiqhi Laming
Editor : Halo Jember