HALOJEMBER - Selama 2024 atau year on year (y-on-y) sekaligus year to date (y-to-d) Provinsi Jawa Timur sebesar 1,51 persen. Sedangkan, untuk Jember 1,74 persen.
Sementara, Inflasi MTM Jember pada bulan Desember mencapai 0,54 persen.
"Inflasi di Bulan Desember 2024 kemarin cukup tinggi, biasanya tidak sampai 0,5 persen. Ini bisa sampai 0,54 persen, seperti pada komoditi telur ayam," kata kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, Tri Erwandi, belum lama ini (3/1).
Menurut dia, kenaikan inflasi saat Nataru itu dipengaruhi karena meningkatnya konsumsi masyarakat, khususnya telur.
Karena telur dianggap lebih murah dan mudah dikonsumsi ketimbang daging. Sehingga permintaan menjadi tinggi namun dengan suplai barang yang tetap.
Tidak hanya telur, salah satu program andalan pemerintah hari ini, makan bergizi gratis (MBG), juga berpotensi menjadi penyumbang inflasi karena membutuhkan sejumlah komoditi.
Seperti suplai beras, dalam jumlah besar.
Erwandi menilai, terkait upaya swasembada pangan dan MBG, membutuhkan komoditi yang berkaitan dalam jumlah besar. Seperti beras, lalu ternak (daging) yang juga membutuhkan pakan.
"Keterkaitan ini menjadi kebijakan baru yang diharapkan bisa menopang sumber-sumber pendapatan, tapi juga perlu diwaspadai jangan-jangan nanti memengaruhi harga di tingkat konsumen. Jadi perlu dilihat apakah suplainya cukup," urainya.
Perlu diketahui, BPS mencatat inflasi Indonesia pada tahun 2024 berada di level 1,57 persen (yoy).
Jumlah itu sudah mendekati batas bawah target inflasi tahun 2024 yang di kisaran 2,5 ± 1 persen.
Sementara inflasi Jatim di bawah nasional, tapi untuk Jember tingkat inflasinya di atas nasional, yaitu sebesar 1,74 persen. (mau/dwi)
Editor : Halo Jember