HALO JEMBER – Pulau Bali atau disebut dengan Pulau Dewata menjadi daerah wisata unggulan Indonesia. Bahkan, nama Indonesia terdongkrak karena keindahan Bali.
Wajar saja, Bali adalah destinasi wisata internasional. Berbagai wisatawan mancanegara, mulai dari Eropa, Jepang, hingga Amerika datang ke Bali.
Kalangan artis dunia, hingga pesepak bola dunia juga pernah mencicipi keindahan Bali.
Lokasi Pulau Bali ini, berada di dekat Pulau Jawa bagian timur dan Pulau Lombok yang berada di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Karena Bali adalah daerah wisata unggulan negara ini, maka tidak heran banyak warga Indonesia, khususnya di Pulau Jawa menghabiskan waktu liburan ke Bali.
Baca Juga: Berikut Beberapa Destinasi Wisata Yang Menarik Di Kunjungi Jika Ke Bali
Tingginya tingkat kunjungan masyarakat Pulau Jawa ke Bali, sayangnya masih perlu kapal feri untuk menyeberang Selat Bali. Upaya mempercepat moda transportasi penghubung dua pulau tersebut, bisa lewat jembatan.
Seperti Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Pulau Jawa (Kota Surabaya) dengan Pulau Madura. Tapi mengapa tidak ada jembatan di Selat Bali?
Baca Juga: Mitos Bunut Bolong di Bali, Pasangan Bisa Putus atau Cerai
Jembatan Selat Bali yang Gagal
Gagasan Jembatan Selat Bali ini muncul pada tahun 1960. Guru Besar dari Institut Teknologi Bandung atau ITB yaitu Prof. Sedyatmo memiliki ide pembangunan jembatan penghubung Pulau Jawa dengan Pulau Bali.
Alasannya, yaitu untuk percepatan ekonomi Bali pada waktu itu. Proyek ini dikenal dengan nama Trinusa Bimasakti.
Walau telah ada ide tahun 1960, rupanya gagasan jembatan Selat Bali tidak kunjung terwujud.
Salah satu alasannya, adanya penolakan warga Bali. Menurut mitologi Hindu, Dang Hyang Siddhi Mantra, laut memisahkan Jawa dan Bali sebagai pembatas dan penyaring pengaruh negatif dari luar.
Pertimbangan adat: Pembangunan jembatan penghubung bisa melanggar adat yang sakral.
Masyarakat Bali juga percaya bahwa posisi jembatan dilarang lebih tinggi daripada tempat sembahyang dan tempat menaruh sesajen.
Disisi lain, ombak Selat Bali juga cukup besar. Pembangunan Jembatan ini pun juga memakan pondasi yang cukup kuat.
Baca Juga: Mitos dan Asal-usul Larangan Bawa Daging Sapi ke Gunung Agung di Bali
Sebab, Selat Bali termasuk laut yang cukup dalam. Hal itu berbeda dengan Jembatan Suramadu yang berada di perairan dangkal antara Surabaya dan Madura.
Korban Ganasnya Selat Bali
Nama Wayan IN, perempuan asal Jember membuktikan diri ganasnya Selat Bali.
Dia ditemukan meninggal dunia, karena tercebur di Selat Bali saat naik kapal KMP Citra Mandala Sakti berlayar dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana.
Jenazah Wayan I ditemukan oleh nelayan di pesisir Pantai Prapat Agung, Bali
Disamping manusia yang tenggelam di Selat Bali ada juga kapal.
Kapal tenggelam di lautan memang pernah terjadi. Kapal Titanic yang megah pun juga tenggelam.
Namun, untuk ukuran kapal yang tenggelam di selat cukup jarang terjadi. Kondisi itu berbeda di Selat Bali.
Baca Juga: Mengapa Pantai Watu Ulo Dijadikan Tempat Favorit Burdir?
Tercatat ada kapal yang tenggelam di Selat Bali
- Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Rafelia 2 yang tenggelam pada 4 Maret 2016 di selat Bali saat melakukan pelayaran dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali menuju Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi.
- KMP Yunicee yang melayani penyeberangan di Selat Bali terbalik dan tenggelam. Kejadiannya pun terjadi pada Juli 2021.
3. KRI Klewang-625: Terbakar di Selat Bali pada 31 Agustus 2012, sesaat setelah diluncurkan.
Baca Juga: Drama Korea When The Phone Rings Menuai Kritikan Tampilkan Adegan Propaganda
Editor : Halo Jember