HALOJEMBER - Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej) Dr Farida Wahyu Ningtyias menyatakan dukungannya terhadap program makanan bergizi gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah.
Menurutnya, program MBG sangat relevan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian yang seimbang, yang akan berdampak langsung pada peningkatan status gizi masyarakat.
Khususnya pada kelompok berisiko seperti balita, anak usia sekolah, dan ibu hamil.
"Program ini sangat penting karena target utamanya adalah kelompok yang rentan terhadap malnutrisi. Kami berharap dengan adanya MBG, konsumsi makanan bergizi akan meningkat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas gizi masyarakat," ujarnya.
Farida juga mengungkapkan penerapan MBG perlu memperhatikan waktu pelaksaannya. Setidaknya waktu yang tepat adalah pada jam anak-anak usia sekolah cenderung mengonsumsi jajanan yang tidak sehat.
"Banyak anak-anak yang tidak membawa bekal dari rumah, dan kondisi ini semakin buruk dengan adanya kantin sekolah yang kurang menyediakan makanan sehat," tambahnya.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh FKM Unej, ditemukan bahwa sebagian besar anak usia sekolah di Jember belum tercukupi kebutuhan konsumsi hariannya.
Penelitian lewat food recall atau metode survei konsumsi makanan secara kuantitatif menunjukkan bahwa makan siang anak-anak sekolah kebanyakan hanya berupa jajanan tinggi kalori, namun minim kandungan gizi.
"Beberapa anak hanya mengonsumsi cilok, mi lidi pedas, atau mi instan dari kantin sekolah yang jelas tidak memenuhi kebutuhan gizi yang optimal," jelasnya.
Farida menekankan pentingnya memastikan bahwa penerapan MBG bisa memberikan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan anak usia sekolah.
"Saya rasa program ini sudah diatur dengan baik karena melibatkan ahli gizi dalam perancangannya. Sudah terdapat keseimbangan antara karbohidrat, protein, lemak, dan mineral dalam menu yang disajikan. Seperti nasi, lauk protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, serta susu," terangnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa keamanan pangan harus menjadi perhatian utama dalam program ini.
"Penyediaan dan pengolahan makanan harus dilakukan dengan bersih dan aman. Tempat pengolahan makanan juga harus higienis, serta penyimpanan dan distribusinya harus sesuai dengan standar keamanan pangan. Itu untuk mencegah keracunan makanan. Terutama karena ini melibatkan produksi masal,” terangnya. (dhi/c2/dwi)
Editor : Halo Jember