HALOJEMBER - Dengan tantangan zaman yang penuh dengan polarisasi dan perbedaan pendapat, maka menjaga ukhuwah dan toleransi antarumat beragama sangatlah penting.
Perayaan seperti Isra Mikraj dan Imlek bukan sekadar ritual keagamaan atau kebudayaan. Namun, juga momen yang tepat untuk saling merenung dan memperkuat komitmen untuk hidup berdampingan dengan damai.
Perayaan keagamaan selalu menjadi momen yang penuh makna. Tak hanya bagi umat yang merayakannya, tapi juga sebagai bentuk perayaan keragaman dalam masyarakat.
Dua perayaan besar yang datang pada waktu hampir bersamaan ialah Isra Mikraj bagi umat Islam dan Tahun Baru Imlek bagi umat Tionghoa.
Kedua perayaan ini meskipun berbeda, namun dapat menjadi ajang untuk memperkuat ukhuwah (persaudaraan) dan menjalin toleransi antarumat beragama.
Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember Dr Zainal Anshari menjelaskan, Isra Mikraj merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam dengan memperingati perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Dilanjutkan dengan naik ke langit.
Perayaan ini mengandung banyak pelajaran tentang spiritualitas, penguatan iman, dan kedekatan umat kepada Tuhan.
“Bagi umat Islam, Isra Mikraj bukan hanya momen peringatan, tetapi juga pengingat untuk terus beribadah dan menjaga kualitas hubungan dengan Sang Pencipta,” paparnya.
Di sisi lain, Tahun Baru Imlek adalah perayaan yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Imlek merupakan simbol kebersamaan, kedamaian, dan harapan baru.
Dalam perayaan ini, berbagai tradisi seperti pertemuan keluarga, makan bersama, serta pemberian angpao menjadi simbol kasih sayang dan saling berbagi kebahagiaan.
Meskipun kedua perayaan ini berakar pada agama dan budaya yang berbeda, keduanya menawarkan pesan universal yang dapat memperkuat jalinan ukhuwah di antara umat beragama.
Toleransi, saling menghormati, dan kerja sama menjadi kunci utama dalam merayakan perbedaan.
Pentingnya menjaga ukhuwah dan toleransi juga tecermin dalam sikap masyarakat Indonesia yang telah lama hidup berdampingan meski memiliki keyakinan yang berbeda.
“Menghargai perbedaan merupakan warisan yang sangat berharga. Tentunya juga harus diwariskan ke anak cucu kita. Apalah arti mewarisi kekayaan jika anak cucu kita tak bisa saling menghargai,” pungkasnya. (dhi/c2/dwi)
Editor : Halo Jember