RADAR JEMBER - Dunia internasional dikejutkan dengan kabar wafatnya Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, pada usia 88 tahun.
Berita duka ini langsung memicu gelombang ucapan belasungkawa dari para pemimpin dunia, termasuk dari Palestina.
Bagi rakyat Palestina, Paus Fransiskus bukan hanya pemimpin agama Katolik, tetapi juga seorang sahabat dan pendukung perdamaian yang gigih menyuarakan keadilan bagi semua pihak, termasuk bangsa Palestina.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pernyataan resminya menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Paus Fransiskus.
Ia menyebut Paus sebagai “sosok moral yang langka dan pembawa damai yang sejati,” serta mengingat kembali berbagai pernyataan Paus yang mendukung penyelesaian damai atas konflik Israel-Palestina.
“Kami kehilangan seorang tokoh besar yang senantiasa berdiri bersama nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan. Paus Fransiskus selalu menekankan pentingnya solusi dua negara dan mengutuk segala bentuk penindasan,” ujar Abbas dalam siaran pers resmi dari kantor Presiden Palestina.
Baca Juga: Potret Gereja Bersejarah yang Masih Berdiri Kokoh dari Zaman Kolonial hingga Masa Kini
Paus Fransiskus memang dikenal sebagai salah satu pemimpin agama yang secara konsisten menyerukan perdamaian di Tanah Suci.
Dalam kunjungannya ke Betlehem pada Mei 2014, Paus mengadakan misa di Lapangan Palungan (Manger Square) dan secara simbolis menyampaikan dukungannya kepada rakyat Palestina.
Ia bahkan secara terbuka menyebut “Negara Palestina” dalam pidatonya—sebuah sikap yang secara politik memiliki arti besar.
Di depan Tembok Pemisah yang dibangun oleh Israel, Paus Fransiskus berhenti sejenak, menyentuhkan dahinya ke dinding beton yang penuh grafiti bertuliskan pesan-pesan protes dan damai.
Momen tersebut menjadi gambar ikonik yang viral dan menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia.
Komunitas Kristen di wilayah Palestina, yang merupakan minoritas namun memiliki akar sejarah yang sangat dalam di Tanah Suci, juga merasa sangat kehilangan.
Pastor Jamal Khader, imam Katolik di Yerusalem, menyatakan bahwa wafatnya Paus merupakan kehilangan besar bagi gereja global dan khususnya bagi umat Kristen Palestina.
“Paus Fransiskus adalah pelindung bagi umat tertindas. Ia memperjuangkan keadilan tanpa takut dikritik. Kami merasa sangat dekat dengannya, bukan hanya karena iman, tetapi karena kasihnya kepada semua orang,” ujar Pastor Khader.
Di berbagai gereja di Tepi Barat dan Jalur Gaza, lonceng dibunyikan sebagai tanda berkabung.
Misa khusus diadakan untuk mendoakan arwah Paus dan mengenang jasa-jasanya dalam memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah.
Dukacita atas wafatnya Paus Fransiskus tidak hanya dirasakan oleh umat Katolik. Banyak warga Muslim Palestina juga mengungkapkan rasa kehilangan atas kepergian sosok yang mereka anggap sebagai “jembatan antaragama.”
Di media sosial, tagar seperti #PopeFrancis dan #PeaceForPalestine ramai digunakan oleh warga Palestina untuk mengenang Paus.
“Paus adalah suara hati nurani dunia. Ia tidak pernah diam melihat penderitaan rakyat Palestina,” tulis seorang warga Gaza di Twitter.
Meski berduka, masyarakat Palestina berharap agar penerus Paus Fransiskus dapat melanjutkan warisan yang telah ditinggalkan, terutama dalam hal memperjuangkan perdamaian dan keadilan global.
Bagi Palestina, suara dari Vatikan memiliki bobot moral dan diplomatik yang kuat dalam percaturan internasional.
“Semoga pengganti beliau melanjutkan semangat dialog, solidaritas, dan keberpihakan terhadap hak-hak asasi manusia,” ujar Hanan Ashrawi, mantan anggota Komite Eksekutif PLO.
Wafatnya Paus Fransiskus menjadi kehilangan besar bagi dunia, dan bagi Palestina, kehilangan ini terasa sangat personal.
Di tengah konflik yang terus membara, kehadiran seorang tokoh seperti Paus Fransiskus telah menjadi penghibur, penyambung harapan, dan simbol kekuatan moral.
Warisan perjuangannya akan tetap hidup dalam ingatan rakyat Palestina, dan semangatnya akan terus menginspirasi langkah menuju perdamaian yang adil.
Penulis: MG25 Maria Yakomin Angella Unawekla
Editor : Halo Jember