HALO JEMBER, Radar Jember - Sanggar budaya tak hanya sebagai tempat latihan seni tradisional. Lebih dari itu, menjadi wahana edukasi kebudayaan lintas generasi. Mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Dosen bidang sastra Fakultas Keguruan dan llmu Pendidikan FKIP Universitas Jember (Unej), dr Akhmad Taufiq, mengatakan, di era modern saat ini, generasi muda seperti Gen Z dan Alpha memiliki potensi besar dalam mengembangkan kreativitas dan kecintaan terhadap budaya lokal.
Sanggar budaya menyediakan ruang yang inklusif dan fleksibel untuk menampung semangat dan energi mereka.
“Di sana (sanggar budaya, Red) generasi muda bisa belajar berbagai bentuk kesenian. Mulai dari tari, musik, teater, hingga sastra,” tuturnya.
Akhmad Taufiq menegaskan pentingnya pengenalan sanggar budaya sejak usia dini. Menurutnya, anak-anak yang tidak memahami dan tidak mampu beradaptasi dengan budaya sendiri akan menghadapi krisis identitas di masa depan.
“Mereka bisa terlempar dari budayanya sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa melibatkan generasi Gen Z dan Alpha dalam proses kebudayaan harus dilakukan secara aktif dan berkesinambungan. Sanggar budaya bisa menjadi tempat belajar bersama secara terus-menerus.
“Di sanggar proses pewarisan budaya berlangsung secara alami. Melalui interaksi antara sesama generasi muda maupun dengan para pelaku budaya senior,” terangnya.
Menurut pria kelahiran 1974 ini, tantangan zaman saat ini menuntut adanya fondasi budaya yang kokoh bagi generasi muda. Jika tidak disiapkan sejak awal, maka anak-anak muda akan mudah terombang-ambing oleh arus budaya global dan merasa asing terhadap identitas budayanya sendiri.
“Di sinilah pentingnya keberadaan sanggar budaya sebagai penyeimbang antara tradisi dan modernitas,” terang sastrawan yang pernah menerima anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jatim bagi insan dan pegiat sastra itu.
Dia menambahkan, sanggar budaya juga bisa menjadi pusat kreativitas yang membentuk karakter anak-anak dan remaja. Melalui kegiatan seni yang dilakukan secara rutin, nilai-nilai seperti gotong royong, disiplin, tanggung jawab, dan estetika dapat tertanam dengan kuat. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter yang tak terpisahkan dari pendidikan formal.
Untuk itu, menurut penulis buku Sastra Multikultural itu, perlu dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat umum, agar sanggar budaya terus hidup dan berkembang.
Keberadaan sanggar bukan hanya untuk melestarikan budaya. Tetapi, juga menciptakan ruang alternatif yang sehat dan positif bagi generasi muda dalam berekspresi dan berkarya. (dhi/c2/dwi)
Editor : Dwi Siswanto