KEPATIHAN, Halo Jember – Calon Jemaah Haji (CJH) lanjut usia (lansia) harus mendapatkan perhatian khusus selama ibadah Haji.
Oleh karena itu peran ketua regu (karu) menjadi sangat krusial, khususnya dalam pengawasan dan pendampingan CJH lanjut usia.
Karu tidak hanya bertugas secara administratif, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam memastikan kesehatan dan keselamatan jamaah selama pelaksanaan ibadah haji.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jember Santoso menegaskan, ketua regu atau karu merupakan orang-orang pilihan dan perannya cukup krusial. Khususnya dalam pengawasan dan pendampingan CJH lansia.
“Dari ribuan jamaah haji yang berangkat, hanya kurang dari 10 persen yang dipercaya mengemban amanah menjadi karu. Ini bukan sekadar tugas biasa, karu harus memiliki kepedulian dan tanggung jawab besar," ujarnya.
Menurut Santoso, peran karu sangat strategis karena merekalah yang paling dekat secara fisik maupun emosional dengan para jamaah. Karu harus mengenal baik kondisi masing-masing anggota regunya.
“Jika ada anggota regu yang mengeluh sakit, maka karu adalah orang pertama yang harus sigap mengantarkan ke petugas kesehatan,” jelas Santoso.
Dalam kondisi padat dan cuaca ekstrem seperti di Tanah Suci, kecepatan, dan ketepatan karu dalam merespons sangat menentukan keselamatan jamaah.
Selain itu, karu juga harus mampu menjadi pemimpin yang sabar dan komunikatif agar bisa memberikan semangat kepada jamaah serta menjaga kekompakan regu.
Karu juga harus menyampaikan informasi penting dari petugas kloter maupun pembimbing ibadah kepada jemaah.
Tantangan menjadi karu cukup berat, apalagi dalam situasi ibadah haji yang sangat dinamis dan penuh tekanan.
Akan tetapi jika dilandasi dengan keikhlasan, maka tugas ini akan menjadi ladang amal yang luar biasa.
“Amanah ini jika dijalankan dengan niat tulus karena Allah, akan menjadi nilai tambah dalam ibadah hajinya,” imbuhnya.
Santoso menerangkan, beberapa waktu lalu, karu juga telah mendapat pelatihan khusus dari Kemenag sebelum keberangkatan.
Materi pelatihan itu meliputi manajemen regu, penanganan darurat medis, hingga tata cara ibadah.
Intensitas komunikasi antara karu dan petugas kloter, menurutnya, menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan segala permasalahan di regu hingga dapat ditangani secara cepat dan efisien.
“Kami ingin karu beserta petugas haji lainnya dapat menjalankan tugasnya dengan maksimal,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Sidkin