SUMBERSARI, Halo Jember - Memaknai hari kebebasan pers internasional tak sekadar memikirkan kepentingan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam kerja-kerja jurnalistik.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jember melibatkan kelompok disabilitas dalam diskusi yang berkaitan erat dengan akses informasi publik di BRIWork Universitas Jember (Unej), Senin (5/5/2025).
Ketua AJI Kota Jember Muhammad Ulil Albab mengatakan, lembaganya mengedepankan perjuangan kemerdekaan pers, profesionalisme, dan kesejahteraan jurnalis.
Di sisi lain, AJI Kota Jember juga melakukan upaya membersamai kelompok minoritas seperti disabilitas.
Maka dalam momen hari kebebasan pers internasional, keinginan itu juga diimplementasikan dalam rangkulan ruang diskusi publik mengenai inklusifitas informasi bagi difabel.
Satu di antara harapannya adalah mengetahui sekat yang selama ini mengahalangi mereka mendapatkan akses informasi yang setara.
"Kami menginginkan bahwa teman-teman difabel mendapatkan hak-haknya yang ada di Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang diasilitas," katanya usai diskusi.
Di tengah tugas profesi yang diemban, lanjutnya, jurnalis yang tergabung dalam AJI Jember berkomitmen membersamai apa yang menjadi kebutuhan kelompok rentan.
Komitmen itu seperti membersamai kebutuhan pendampingan untuk menghadirkan media alternatif di internal mereka hingga advokasi pemberitaan.
"Pada prinsipnya AJI ingin selalu bersama teman-teman minoritas di Jember. Bukan hanya teman-teman difabel tentunya tetapi juga juga teman-teman minoritas yang lain seperti masyarakat adat," jelas jurnalis di Jember itu.
Sementara itu, Ketua Jaringan Seni Disabilitas Jember (JSDJ) Wiviano Rizky Tantowi mengungkapkan, upaya AJI Jember membersamai kelompok disabilitas memberikan makna tersendiri.
Pria yang akrab disapa Vian itu mengaku, selama ini disabilitas mengalami kesulitan mendapatkan akses informasi.
Menurutnya, kendala disabilitas sulit mendapatkan informasi bukan karena malas atau tidak ada upaya dari mereka mencari informasi. "Tapi terkadang kami tidak tahu mau mencari ke mana," ungkapnya.
Dia mengatakan, isu disabilitas seringkali terlewat dari mata media. Sehingga banyak hak-hak mereka juga luput dari perhatian masyarakat termasuk pemerintah.
"Bahkan beberapa kali kami juga mendapatkan objektivitas dari media," ulasnya.
Dia berharap media bisa menjadi sahabat bagi kelompok disabilitas. Utamanya sebagai penyambung lidah mereka yang selama ini sering terabaikan.
Sementara, kata dia, disabilitas tidak bisa terus-terusan mengemis pada pemerintah untuk mendapatkan perhatian. (sil/dwi)
Editor : Sidkin