HALO JEMBER, Radar Jember - Selama ini, budaya sering dipandang sebagai objek pariwisata yang semata dipertunjukkan untuk upaya pelestarian. Menjadikannya sebagai pesta tanpa memaknai nilainya.
Setidaknya, hal inilah yang banyak dikeluhkan para pegiat seni dan budaya hingga akademisi.
Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jember (Unej) Fitri Nura Murti mengatakan, kebudayaan diciptakan manusia.
Ia melahirkannya karena memang ia berbudaya yang diilhami dengan akal lantas membuahkan budi sebagai pembungkus cipta, rasa, dan karsa.
"Kalau bicara kebudayaan berarti kita memikirkan akal budi," katanya ketika rapat dengar pendapat bersama Komisi B DPRD Jember yang meminta rencana peleburan Disparbud dibatalkan, Rabu (7/5) lalu.
Namun, esensi penting dari semua itu, kata dia, adalah nilai.
"Apakah selama ini kita sudah membicarakan itu dan kita sudah memikirkan sistem nilai itu kepada masyarakat kita?," tanyanya kepada anggota dewan.
Fitri menilai, selama ini budaya yang dihadirkan di tengah masyarakat berupa pesta tanpa mengutamakan makna.
Sistem nilai yang ada di dalamnya dilupakan. Dia berharap sistem nilai itulah yang bisa dipelihara melalui kebijakan anggota legislatif.
"Kalaupun budaya itu kemudian diproduksi, kemudian dinikmati dan menghasilkan aspek ekonomi itu hanya muara. Bukan inti sari," tegasnya.
Apabila kebudayaan hanya dinilai sebagai komoditas dan produk pariwisata yang mengalami persaingan global, maka ia kosong tak bernilai. Ini juga yang tak sadar ditularkan kepada masyarakat. Kemudian lebih sibuk pada masalah uang dan perut.
"Tapi kalau mereka sudah terisi dengan mutiara nilai, mereka punya rasa syukur yang berbeda. Ungkapan syukur yang berbeda. Nanti akhirnya mereka punya alternatif cara mereka sendiri untuk hidup," paparnya.
Baca Juga: Perhatikan 7 Hal Ini sebelum Wisata ke Vihara, Salah Satunya Kenakan Pakaian yang Sopan
Dia mengajak anggota dewan saling bersinergi. Sektor pendidikan dan politik bisa saling merangkul mewujudkan sistem nilai yang bisa dihadirkan kepada masyarakat. (sil/dwi) Baca Juga: Sosok Impian Pemimpin Membangun dengan Hati. OPINI : M. Zulianto, Dosen FKIP Unej
Editor : Dwi Siswanto