JEMBER, Halo Jember - Perlintasan rel kereta api di Desa Pecoro, Kecamatan Rambipuji, Jember, akhir-akhir ini menjadi perbincangan. Apalagi setelah Bupati Jember Muhammad Fawait melakukan sidak di perlintasan tersebut, Senin lalu (7/7/2025).
Sidak itu dilakukan setelah banyaknya aduan dan keluhan masyarakat yang disampaikan langsung kepada dirinya, OPD, maupun melalui Wadul Guse.
Diketahui, keluhan itu seperti jalan aspal di perlintasan yang rusak. Sehingga menyebabkan banyak kejadian kecelakaan.
Saat sidak itu, Bupati Gus Fawait tidak datang sendiri. Ia juga mengerahkan Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Dinas PU Bina Marga dan SDA Jember.
Itu untuk memperbaiki jeglongan di perlintasan yang berada di jalan nasional tersebut.
Dia mengaku inisiatif turun langsung memimpin jalannya perbaikan lantaran banyaknya keluhan masyarakat yang diterimanya belakangan ini.
"Setelah saya mencermati adanya korban-korban kecelakaan bahkan menimbulkan kemacetan yang luar biasa, kami putuskan untuk turun langsung," katanya, saat di lokasi.
Dia mengungkapkan bahwa Pemkab Jember sebelumnya telah bersurat kepada Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional dan PT KAI, pada 28 Mei kemarin.
Namun hal itu sepertinya belum mendapatkan jawaban yang diharapkan karena alur birokrasi yang cukup panjang.
"Memang kalau bukan kewenangan kami, perlu waktu untuk berkoordinasi. Tapi kalau kelamaan koordinasinya, ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan keselamatan warga, kami harus turun langsung," ujarnya.
Saat itu para petugas dari Tim URC menambal badan jalan yang menjadi tumpuan besi perlintasan KA Pecoro.
Sebelum diperbaiki, kondisinya memang terdapat beberapa lubang yang menganga.
Bahkan beberapa informasi dari warga, saat terjadi hujan dan malam hari, kondisinya cukup membahayakan karena licin.
Petugas Tim URC juga memperbaiki tutupan jalan dengan menambahkan gragal.
Hujan yang sampai bulan ini masih kerap mengguyur Jember, menjadi faktor ganda potensi kecelakaan terjadi.
Saat hujan turun, jalan menjadi lebih licin, ditambah kondisi jalur di perlintasan rel kereta api Desa Pecoro yang memanjang di aspal.
Menurut Napik, 55, salah seorang warga setempat, mengatakan, perlintasan KA Pecorosudah banyak makan korban. Terutama pengendara sepeda motor yang melintas dari dua arah.
"Paling banyak saat gerimis atau hujan, lintasan rel KA menjadi licin. Jalan aspal dengan rel, lebih tinggi relnya," katanya.
Dia menjelaskan, posisi rel yang miring menyebabkan roda depan kendaraan sulit untuk naik ke atas rel.
"Paling banyak (yang tergelincir,Red) ya, kecelakaan tunggal dari roda dua," imbuhnya.
Kalau pengendara yang sering melintas, menurutnya, sudah hafal pada kondisi lintasan KA di Pecoro. Tetapi pengendara yang belum pernah lewat, kerap mengalami kecelakaan tunggal.
“Itu yang kasihan. Banyak juga pengendara sepeda motor yang sudah pernah melintas juga masih jatuh. Jalan aspalnya tidak segera diperbaiki. Sebelum-sebelumnya, kalau perbaikan hanya ditutup dengan krakal saja saja, bukan di aspal,” katanya.
Dia juga menyebut ada ibu-ibu bersama anaknya terjatuh hingga luka-luka.
“Yang lebih parah dan berbahaya, kalau melintas malam hari dalam kondisi hujan,” pungkasnya. (mau/jum/kin)
Editor : Sidkin