Walau begitu, juga perlu waktu jalur kereta legendaris itu aktif kembali.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro mengatakan, saat ini reaktivasi jalur kereta Jember – Panarukan, Situbondo masih dalam tahap kajian
“Jadi, DJKA ini masih mengkaji apakah ini benar-benar layak atau enggak, nanti baru ditindaklanjuti,” katanya.
Reaktivasi ini berpotensi besar memberikan manfaat luas bagi masyarakat, terutama dalam hal transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Karena ini memang bagian sinyal positif lah untuk meningkatkan layanan transportasi kereta api yang mana bisa memobilisasi masyarakat secara luas,” ujarnya.
Namun demikian, pihak KAI menegaskan bahwa keputusan reaktivasi bukan menjadi kewenangan mereka, melainkan otoritas pusat.
“Jelas KAI Daop 9 Jember pasti dukung siap mendukung reaktivasi,” kata Cahyo.
Meski mendukung, pihaknya mengaku belum dilibatkan secara resmi dalam pembahasan teknis maupun koordinasi terkait proyek tersebut.
Dalam konteks reaktivasi, posisi KAI Daop 9 Jember adalah sebagai operator, sementara kewenangan penuh berada di tangan regulator pusat. “Jadi, KAI itu operator, kami menjalankan,” ucapnya.
Jika nantinya harus menginventarisasi aset-aset di sepanjang jalur mati tersebut, maka pihaknya siap melaksanakan.
Diterangkan, rel Jember – Situbondo tersebut masih menggunakan standar lama dan tidak kompatibel dengan kereta masa kini, sehingga tidak bisa dipakai lagi.
“Sekarang pakai rel R54, dulu masih R25 rata-rata,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, R54 merupakan tipe rel standar saat ini dengan ukuran lebih besar dibandingkan R25 yang digunakan pada era sebelumnya.
Reaktivasi jalur Jember–Situbondo, termasuk kemungkinan menghidupkan kembali stasiun-stasiun mati.
“Apakah nanti pakai jalur existing atau bikin jalur baru, yang mengetahui dan menentukan adalah dari pusat,” terangnya. (sil/dwi)
Editor : Dwi Siswanto