HALO JEMBER, Radar Jember - Merdeka harga mati! Merdeka harga mati, merdeka harga mati. Potongan bait dari puisi Saya Indonesia, Saya Pancasila karya Asty Kusumadewi menggema lantang di halaman Museum Telu, Jember, kemarin (16/8).
Suara itu datang dari generasi muda yang penuh semangat, mengikuti lomba baca puisi dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Satu per satu peserta membacakan puisi dengan tema kemerdekaan dengan penuh penghayatan. Ada yang membacakan karya Chairil Anwar berjudul Karawang-Bekasi, ada pula yang menyuarakan Merdeka Harga Mati karya Muhammad Yamin.
Tepuk tangan mengiringi setiap penampilan, menambah semarak suasana di H-1 peringatan HUT ke-80 RI tersebut
Tak hanya peserta, lomba ini juga menyita perhatian warga yang kebetulan melintas. Sebab, sudah jarang mereka melihat ada puisi pada moment Agustusan.
“Kami ingin membudayakan budaya kita, yaitu puisi. Lomba ini sekaligus untuk menyambut Hari Puisi Indonesia pada 27 Juli lalu,” jelasnya.
Total ada 27 peserta dari berbagai jenjang, mulai dari SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Uniknya, empat di antaranya adalah tunanetra. “Kami ingin menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui karya sastra,” imbuhnya.
Kurator Museum Telu, Ade Shodiq Permana, menambahkan bahwa museum yang berdiri awal 2025 itu memiliki komitmen kuat sebagai ruang belajar publik.
“Fungsi museum tidak sekadar menyimpan benda-benda. Museum adalah wahana edukatif dan rekreatif,” ujarnya.
Menurut Ade, Museum Telu terus berupaya memberdayakan budaya sejarah dan merespons kondisi sosial sekitar.
“Momentum Agustusan ini kami respon dengan lomba baca puisi. Ini bagian dari tanggung jawab museum ke publik dalam hal edukasi dan ilmu pengetahuan,” tegasnya. (dhi/dwi)
Editor : Dwi Siswanto