HALO JEMBER – Kementerian Agama ( Kemenag ) untuk melaksanakan Training of Facilitator (ToF) untuk menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta atau KBC di lembaga pendidikan agama dan keagamaan.
Program ini diikuti puluhan widyaiswara dari berbagai balai dan loka diklat, yang nantinya disiapkan menjadi fasilitator nasional.
Pelatihan digelar dalam tiga angkatan. Angkatan pertama berlangsung pada 25-30 Agustus 2025 dengan 30 peserta, sementara dua angkatan berikutnya akan berjalan pada 1-6 September mendatang.
Terdapat empat provinsi yang menjadi sasaran pelaksanaan ToF yakni Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang baru diluncurkan pada Juli lalu, merupakan inisiatif Kemenag untuk membangun sistem pendidikan yang menekankan pada nilai kasih sayang, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama.
Berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang lebih menekankan aspek kognitif, KBC justru berfokus pada pembentukan karakter melalui pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
Haidar Bagir, Presiden Direktur Mizan Group sekaligus penggagas Gerakan Islam Cinta menjelaskan cinta tidak bisa diajarkan seperti Pelajaran matematika, melainkan harus ditanamkan lewat budaya sekolah yang ramah, inklusif, dan bebas perundungan.
“Cinta tidak bisa diajarkan seperti mata pelajaran matematika. Ia menyatu dengan diri manusia dan harus ditanamkan melalui pengalaman yang imanen,” Ungkap Haidar, dikutip dari Antaranews.com.
Hal senada diungkapkan Sri Widuri, project Director INOVASI. Ia menilai KBC sejalan dengan penguatan Pendidikan karakter yang berakar pada nilai-nilai Pancasila.
“KBC adalah langkah revolusioner dan fundamental, kami bersyukur Pak Menteri menggagas KBC untuk memperkuat Pendidikan berbasis nilai (values-based education) yang diharapkan membentuk pola pikir dan perilaku anak-anak sesuai mandat Pancasila,” ujar Sri.
Pelatihan ToF sendiri merupakan tindak lanjut dari pra-ToF di Garut pada 31 Juli hingga 2 Agustus lalu, yang telah menguji materi serta pendekatan pelaksanaan.
Hasil evaluasi tersebut kini dipakai untuk menyempurnakan program.
Dengan demikian, Kemenag menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berlandaskan nilai kasih sayang dan cinta.
Penulis: Fida Nurfauziah Mufiana
Editor : Dwi Siswanto