HALO JEMBER – Istilah “cinta” kini semakin sering digaungkan, tak hanya sekadar ekspresi perasaan antarpasangan, melainkan juga menjadi jargon dalam kebijakan publik.
Setelah Bupati Jember, Gus Fawait memperkenalkan slogan Semua Karena Cinta hingga program beasiswa Cinta Bergema, kini Kementerian Agama atau Kemenag RI ikut menghadirkan gagasan serupa lewat program Kurikulum Berbasis Cinta ( KBC ).
Kurikulum ini merupakan terobosan baru Kemenag dalam dunia pendidikan.
Kurikulum Berbasis Cinta KBC adalah kurikulum yang diluncurkan oleh Kementerian Agama RI pada bulan Juli lalu, untuk mengembangkan pendidikan yang lebih manusiawi, dengan menanamkan nilai kasih sayang, empati, dan toleransi.
Melalui konsep cinta, KBC bertujuan membentuk warga negara yang berintegritas, toleran, dan bertanggung jawab.
Sehingga mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang visioner, didorong oleh hati nurani, serta inovator yang menciptakan solusi berkelanjutan demi kebaikan bersama.
Kurikulum Berbasis Cinta dibangun atas lima nilai utama yang disebut Panca Cinta.
Meliputi, Cinta kepada Tuhan, Cinta kepada diri dan sesama, Cinta kepada ilmu pengetahuan, Cinta kepada lingkungan, dan Cinta kepada bangsa dan negeri.
Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, ilmu pengetahuan tidak hanya dipandang sebagai kumpulan fakta dan rumus, tetapi sebagai jalan menuju kebijaksanaan dan kasih sayang terhadap ciptaan Tuhan.
Kurikulum ini hadir untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kenanusiaan, spiritualitas, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI dalam pidato peluncurannya, menegaskan bahwa kurikulum ini lahir dari kegelisahan atas dominasi pendidikan yang hanya berorientasi pada aspek kognitif semata.
Menurutnya, cinta adalah bahasa universal yang bisa menjembatani perbedaan dan menyatukan umat manusia dalam harmoni.
“Jangan sampai kita mengajarkan agama, tapi tanpa sadar menanamkan benih kebencian kepada yang berbeda.
Kurikulum ini adalah upaya menghadirkan titik-titik kesadaran universal dan membangun peradaban dengan cinta sebagai fondasi,” ujar Nasaruddin, dikutip dari walisongo.ac.id.
Kemenag optimistis, dengan menanamkan nilai cinta sejak dini, dunia pendidikan Indonesia dapat mencetak generasi penerus bangsa yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan moral yang kuat.
Penulis: Fida Nurfauziah Mufiana
Editor : Dwi Siswanto