BARATAN, Radar Jember – Penantian panjang ribuan petani tebu di Jember akhirnya terbayar. Setelah berbulan-bulan menumpuk di gudang, lebih dari 10 ribu ton gula kristal putih milik petani di Pabrik Gula (PG) Semboro akhirnya terjual.
Sebelumnya gula itu terjual saat lelang. Kini, gula itu dibeli oleh Danantara Indonesia dengan nilai transaksi mencapai Rp 141 miliar.
Manajer Keuangan dan Umum PG Semboro, Diputra Risman, memastikan pencairan dari Danantara itu dilakukan cepat dan transparan.
Pencarian langsung masuk ke rekening petani mulai Kamis (4/9). "Langsung masuk ke petani,” ujarnya, Kamis (4/9) sore.
Dipo, sapaannya menerangkan, pembayaran antarbank yang melewati jam kliring atau di atas pukul 14.00 baru bisa masuk pada Senin mendatang.
Sebab layanan bank tutup selama liburan. Menurutnya, penyerapan dari pemerintah tahap pertama mencapai 9.737 ton.
Sementara tahap berikutnya masih menunggu arahan dari kantor pusat PT SGN, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), dan ID Food.
Dia menyebut, total 10.537 ton gula petani yang ada di gudang penyimpanan PG Semboro. 9.737 di antaranya diserap Danantara. Sementara 800 ton diserap pedagang melalui lelang beberapa waktu lalu..
"Kalau yang dibeli pedagang, informasinya dibayar tanggal 8 September 2025. Pembayaran nanti ke PG dulu. PG yang akan membayar ke petani hasil penjualan gula itu," terangnya.
Kebijakan pembayaran kontan itu disambut lega oleh petani. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Semboro, Sutrisno, membenarkan pencairan mulai dilakukan sejak Kamis. Besarannya sesuai sistem DO setiap petani.
"Sudah langsung diserahkan sesuai DO, hanya ada yang lanjut Senin,” jelasnya.
Sebagai informasi, semua gula petani yang dibeli pemerintah maupun pedagang itu sesuai harga acuan pemerintah (HAP), yakni Rp 14.500 per kilogram.
Sehingga total penjualan gula di PG Semboro itu mencapai Rp 152,7 miliar. Sementara Danantara Indonesia menyiapkan dana hingga Rp 1,5 triliun untuk menyerap gula petani di seluruh Indonesia.
Realisasi penyaluran dilakukan lewat BUMN, lalu diteruskan kepada petani.
Sebelumnya, sejak Juni 2025, gula rakyat sempat menumpuk lebih dari 10 ribu ton di gudang PG Semboro. Ini disebabkan lesunya penyerapan pasar. Maraknya gula rafinasi dituding menjadi penyebab utama lambatnya peredaran gula rakyat di pasaran. (kin/nur)
Editor : Dwi Siswanto