Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Pemilihan Kepsek Tak Sesuai Aturan, Puluhan Siswa dan Guru SMA Muhammadiyah 3 Jember Tolak Pelantikan, Gelar Aksi Unjuk Rasa di Halaman Sekolah

Sidkin • Jumat, 31 Oktober 2025 | 19:10 WIB
Puluhan siswa SMA Muhammadiyah 3 Jember memprotes pelantikan Kepsek. Diduga cacat prosedur, Kamis (30/10/2025).
Puluhan siswa SMA Muhammadiyah 3 Jember memprotes pelantikan Kepsek. Diduga cacat prosedur, Kamis (30/10/2025).

JEMBER, Halojember.jawapos.com - Puluhan siswa dan guru SMA Muhammadiyah 3 Jember menggelar unjuk rasa, Kamis sore (30/10/2025).

Massa menolak pelantikan kembali Sony Bakhtiar sebagai kepala sekolah.

Mereka menilai proses penetapan itu janggal dan sarat rekayasa.

 

Sepulang sekolah, sekira pukul 16.00 WIB, aksi itu dilakukan di halaman sekolah.

Dengan membawa poster dan seruan lantang, massa aksi bergerak ke aula lantai dua tempat pelantikan berlangsung. Massa menuntut agar pelantikan itu dihentikan.

Ketegangan sempat terjadi antara massa aksi dengan panitia di aula sekolah.

Salah seorang guru dan mantan anggota DPRD Jember Abdul Ghafur bahkan bersimpuh meminta agar acara pelantikan kepala sekolah itu tidak dilanjutkan.

Sudahri, guru agama Islam dan Bahasa Arab, mengatakan, unjuk rasa ini bukan sekadar bentuk perlawanan. Melainkan kritik terhadap proses pemilihan kepala sekolah yang dinilai tidak wajar.

“Kami menolak pelantikan karena ada proses yang abnormal, tidak seperti biasanya. Padahal proses itu sudah selesai, tapi kemudian diskenario (pemilihan,Red) lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan, aksi ini justru dilakukan demi menyelamatkan lembaga pendidikan tersebut.

Massa ingin SMA Muhammadiyah 3 tetap maju dan dipimpin oleh orang yang sah. Tentu melalui proses yang normal dan sesuai ketentuan.

Sudahri juga menyoroti kebijakan yang dinilai menekan para guru tidak tetap (GTT).

Tekanan itu melalui SK yang diteken kepala sekolah. Itu berisi bahwa sejumlah tenaga pendidik diubah statusnya menjadi tenaga alih daya atau outsourcing.

Padahal status itu tak dikenal dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. “Yang ada di Muhammadiyah adalah guru tetap persyarikatan dan guru tidak tetap,” ujarnya.

Kebijakan tersebut, lanjut Sudahri, mencerminkan gaya kepemimpinan personal yang terlalu mengontrol.

Ia juga menyesalkan adanya intimidasi. Dia mendengar para siswa yang ikut aksi akan dikeluarkan dari sekolah.

Padahal, lanjutnya, proses penyampaian aspirasi ini sah dan menjadi bagian dari hak setiap warga tanpa memandang statusnya.

"Aspirasi itu hak yang seharusnya dihormati,” tegasnya.

Menanggapi situasi tersebut, Sony Bakhtiar menyebut, aksi unjuk rasa itu sebagai bagian dari dinamika internal lembaga.

Ia menilai ada pihak yang berusaha memaksakan kehendak untuk menjadi kepala sekolah.

“Kami akan melakukan evaluasi dan memikirkan langkah ke depan,” kata Sony.

Sony juga menyatakan, jika ada sanksi bagi peserta aksi, hal itu akan dibahas melalui mekanisme internal bersama Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember.

Ia mengaku tak menyangka aksi itu bisa terjadi karena selama ini merasa sudah terbuka dengan guru dan siswa.

“Kami selalu berkomunikasi dan mendengarkan aspirasi mereka. Ini di luar perkiraan kami,” pungkasnya. (kin)

Editor : Sidkin
#SMAM 3 Jember #demo #massa aksi #siswa demo #Tolak Pelantikan #SMA Muhammadiyah #unjuk rasa #pelantikan kepsek