RADAR JEMBER - Saat ini banyak ibu muda yang mempunyai peran ganda. Bukan hanya bertugas mengurus anak melainkan jadi pekerja di luar rumah. Meski demikian, urusan anak tetap diperhatikan dengan memberikan waktu berkualitas untuk buah hati.
ADE APRIANIS, Lumajang
Para ibu pekerja kini semakin sadar pentingnya quality time sebagai kunci menjaga hubungan emosional dengan buah hati. Meski hanya sebentar, waktu yang benar-benar berkualitas bisa memberi dampak besar bagi perkembangan psikologis anak.
“Kalau tidak bisa memberi waktu yang banyak, maka cukup beri waktu yang berkualitas. Bisa hanya lima menit, asal berkesan,” ujar Bendri Jaisyurrahman, konselor parenting dan keluarga, Rabu (13/11).
Bendri menegaskan, esensi parenting modern bukan diukur dari lamanya waktu yang dihabiskan bersama anak, tetapi dari kualitas interaksi yang terjalin.
Misalnya dengan berbincang dari hati ke hati, bermain tanpa distraksi gawai, atau sekadar menemani anak melukis di rumah.
Waktu yang singkat, lanjutnya, justru bisa jadi momen paling bermakna bila dilakukan dengan sepenuh perhatian. “Saat anak merasa didengarkan, mereka akan menganggap ibunya tetap hadir, meski sibuk bekerja,” jelasnya.
Pakar parenting juga mengingatkan, dalam pola asuh modern, penting bagi ibu pekerja untuk mengelola rasa bersalah (mom guilt) dan fokus pada momen kebersamaan yang bermakna. Aktivitas sederhana seperti makan malam tanpa gawai, membaca buku bersama, atau menemani anak menggambar bisa menjadi bentuk kehadiran yang autentik.
“Parenting bukan tentang berapa lama kita bersama anak, tapi seberapa hangat hubungan yang kita bangun di waktu yang singkat itu,” pungkas Bendri. (dwi)
Baca Juga: Banyak yang Belum Tahu, Begini Cara Lihat Status PKH November 2025
Bekerja: Cara Menyeimbangkan Mental Ibu
TIDAK semua ibu yang bekerja di luar rumah melakukannya semata-mata karena tuntutan ekonomi. Bagi sebagian ibu, bekerja justru menjadi cara untuk menjaga keseimbangan mental sekaligus memberi contoh kemandirian kepada anak.
Hal ini diungkapkan oleh Mely Hermawan, salah satu ibu pekerja di Jember. Ia mengaku bekerja bisa menjadi “ruang bernafas” yang penting bagi ibu agar tetap waras dan produktif. “Menjadi ibu pekerja bisa membantu mengurangi stres. Kalau 24 jam terus bersama anak, malah bisa cepat lelah secara emosional,” ujarnya.
Menurut Mely, anak juga perlu belajar mandiri dan tidak selalu bergantung pada kehadiran orang tua. “Kebanyakan anak justru tumbuh lebih percaya diri ketika melihat ibunya aktif dan tetap bisa menyeimbangkan waktu,” tambahnya.
Psikolog Intan Erlita, yang menegaskan bahwa kunci utama dalam mendidik anak bukanlah seberapa lama ibu bersama anak, melainkan seberapa kuat bonding atau kedekatan emosional yang dibangun. “Bonding itu akar agar anak bisa bersahabat dengan orang tuanya. Kalau bonding-nya tidak ada, jangan berharap anak bisa dekat,” jelasnya.
Di era modern, tantangan ibu pekerja semakin kompleks. Namun, keseimbangan antara karier, keluarga, dan kesehatan mental tetap bisa dijaga. Hal itu selama ibu mampu menata waktu dan memberi ruang bagi dirinya sendiri tanpa mengabaikan kebutuhan anak. (dea/dwi)
Editor : Dwi Siswanto