Halo Jember - Sebuah laporan dari sejumlah pusat trauma dan tenaga medis darurat kembali mengungkap bagaimana tubuh manusia bereaksi ketika seseorang tertembak.
Temuan ini penting untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai bahaya senjata api serta urgensi pertolongan pertama pada kasus luka tembak.
Menurut para ahli, sensasi pertama yang dirasakan korban sering kali bukan rasa sakit seperti yang umum dibayangkan.
Banyak korban menggambarkan bahwa momen tertembak justru dimulai dengan tekanan kuat atau pukulan keras, seperti ditonjok dengan benda berat. Setelah itu, sensasi panas tajam menyerupai rasa terbakar mulai muncul di area luka.
Fenomena ini disebabkan oleh lonjakan adrenalin yang terjadi secara instan ketika otak mendeteksi ancaman besar. Tubuh langsung memasuki mode bertahan hidup melalui respons “fight or flight”.
Dalam kondisi ini, adrenalin memuncak sehingga sinyal rasa sakit tertunda. Itulah sebabnya beberapa orang mengatakan merasa seperti ditusuk, memar, atau bahkan tidak merasakan apa-apa pada detik-detik pertama setelah peluru menembus tubuh.
Meski demikian, rasa sakit yang sebenarnya biasanya baru muncul setelah adrenalin menurun. Pada tahap itu korban mulai merasakan nyeri luar biasa, pusing, atau lemas akibat kerusakan jaringan dan kehilangan darah.
Tenaga medis menegaskan bahwa sekitar 90 persen kematian akibat luka tembak disebabkan oleh pendarahan, bukan dari lukanya semata.
Peluru yang mengenai arteri utama bisa memicu perdarahan hebat dalam hitungan menit.
Beberapa arteri yang paling berbahaya jika terkena peluru termasuk arteri brakialis di lengan, arteri inguinal bilateral di pangkal paha, serta arteri subklavia di bawah tulang selangka.
Ketiga bagian ini merupakan jalur darah besar yang, jika rusak, dapat menyebabkan korban kehilangan darah secara masif sebelum tenaga medis tiba.
Selain luka fisik yang dapat mengancam nyawa, laporan ini juga menyoroti dampak jangka panjang yang sering kali tidak terlihat, yakni trauma psikologis.
Meski korban selamat dan pulih secara fisik, banyak yang kemudian mengalami kecemasan berat, rasa takut berlebihan, hingga kilas balik ketika mendengar suara keras yang menyerupai tembakan.
Dalam banyak kasus, proses pemulihan mental membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding penyembuhan fisik, dan sering kali memerlukan dukungan emosional hingga bantuan profesional.
para ahli menekankan bahwa pemahaman mengenai reaksi tubuh terhadap tembakan, gejala bahaya, serta cara menangani korban dalam detik-detik awal dapat meningkatkan angka keselamatan.
Edukasi publik mengenai risiko senjata api diharapkan dapat mendorong kesadaran tentang pentingnya keselamatan dan penanganan cepat pada insiden serupa.
Penulis: Agil Prasetyo
Editor : Dwi Siswanto