Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Menelusuri Jejak Monas: Monumen Kebanggaan Nasional yang Dibangun dengan Semangat Rakyat dan Mewarnai Wajah Jakarta

Dwi Siswanto • Selasa, 2 Desember 2025 | 00:23 WIB
Menelusuri Jejak Monas: Monumen Kebanggaan Nasional yang Dibangun dengan Semangat Rakyat dan Mewarnai Wajah Jakarta
Menelusuri Jejak Monas: Monumen Kebanggaan Nasional yang Dibangun dengan Semangat Rakyat dan Mewarnai Wajah Jakarta

Halo Jember - Monumen Nasional atau Monas, yang berdiri tepat di jantung Kota Jakarta, telah lama menjadi salah satu ikon yang tak terpisahkan dari wajah Ibu Kota.

Setiap harinya, area ini ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menikmati suasana kota dari ketinggian, belajar sejarah kemerdekaan Indonesia, atau sekadar berjalan santai di kawasan yang dikelilingi pepohonan rindang.

Namun, di balik kemegahan dan fungsinya sebagai destinasi wisata modern, Monas menyimpan perjalanan sejarah yang panjang serta penuh makna bagi bangsa Indonesia.

Pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-16.

Presiden Soekarno, yang memiliki gagasan besar untuk menghadirkan sebuah monumen nasional yang dapat mencerminkan semangat perjuangan rakyat Indonesia, menunjuk tiga tokoh penting sebagai arsiteknya, yaitu Soedarsono, Frederich Silaban, dan Ir. Rooseno.

Ketiganya merancang bangunan yang tidak hanya monumental secara fisik, tetapi juga kaya simbol filosofis yang mencerminkan identitas bangsa.

Pembangunan Monas dilakukan melalui tiga tahapan panjang. Tahap pertama berlangsung pada 1961 hingga 1965.

Pada masa ini, proses pengerjaan diawasi oleh Panitia Monumen Nasional dan biaya pembangunannya berasal dari sumbangan masyarakat.

Antusiasme masyarakat terhadap proyek ini cukup besar, karena dianggap sebagai bentuk partisipasi untuk menghadirkan simbol kemerdekaan yang monumental di ibu kota negara.

Tahap kedua berlangsung pada 1966 hingga 1968. Pada fase ini, pengawasan masih dipegang oleh Panitia Monas, namun seluruh pembiayaan berasal dari Anggaran Pemerintah Pusat.

Setelah itu, pembangunan dilanjutkan ke tahap ketiga pada 1969 hingga 1976 di bawah pengawasan Panitia Pembina Tugu Nasional, dengan pendanaan dari Pemerintah Pusat melalui program Rencana Pembangunan Lima Tahun atau Repelita.

Secara keseluruhan, biaya pembangunan yang dikeluarkan dari tahun 1961 hingga 1965 saja telah mencapai sekitar Rp 58 miliar, jumlah yang sangat besar pada masa tersebut.

Meski belum sepenuhnya rampung, Monas mulai dibuka untuk umum secara bertahap pada 18 Maret 1972 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin Nomor CB 11/1/57/72.

Namun, pembukaan resminya sebagai monumen nasional baru dilakukan pada tahun 1975, menandai berakhirnya proses pembangunan yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Selain strukturnya yang menjulang setinggi 132 meter, Monas memiliki filosofi mendalam yang diambil dari simbol lingga dan yoni dalam budaya Hindu.

Presiden Soekarno mendapatkan inspirasi tersebut dari artefak yang terdapat di Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah.

Menurutnya, monumen pada masa Hindu merupakan cerminan jiwa besar bangsa Indonesia. Tugu Monas melambangkan lingga atau simbol kejantanan, sedangkan pelataran cawan yang menopangnya menggambarkan yoni atau simbol kesuburan.

Keduanya menyimbolkan keseimbangan hidup serta harmoni alam semesta.
Di bagian puncaknya, Monas memiliki mahkota lidah api yang dilapisi emas dengan total berat sekitar 72 kilogram.

Dari jumlah tersebut, sekitar 28 kilogram merupakan sumbangan dari saudagar kaya asal Aceh, Teuku Markam, sebagai bentuk kecintaan terhadap Indonesia.

Selain itu, 22 kilogram emas lainnya digunakan untuk menghiasi Ruang Kemerdekaan, termasuk relief dan ornamen penting yang menggambarkan perjalanan bangsa.

Kini, Monas tidak hanya menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari kolonial Hindia Belanda, tetapi juga menjadi ruang publik yang menyatukan masyarakat dari berbagai daerah.

Dengan perpaduan sejarah, arsitektur, dan filosofi budaya, Monas tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan bangsa sekaligus kebanggaan yang terus hidup di tengah perkembangan Jakarta modern.

Penulis: Agil Prasetyo

Editor : Dwi Siswanto
#monas #presiden soekarno #simbol kemerdekaan #kota jakarta #hari kemerdekaan bangsa Indonesia #17 agustus