Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Institusi Kesehatan Jiwa Tertua: Menilik Kiprah Rumah Sakit Jiwa RSJ Bogor dari Masa ke Masa

Dwi Siswanto • Kamis, 4 Desember 2025 | 15:10 WIB
Institusi Kesehatan Jiwa Tertua: Menilik Kiprah RSJ Bogor dari Masa ke Masa
Institusi Kesehatan Jiwa Tertua: Menilik Kiprah RSJ Bogor dari Masa ke Masa

Halo Jember - Sejarah kesehatan jiwa di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari berdirinya rumah sakit jiwa pertama di Nusantara yang terletak di Bogor.

Rumah sakit yang kini dikenal sebagai PKJN RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi itu diresmikan pada 1 Juli 1882 dengan nama Het Krankzinnigengesticht te Buitenzorg.

Pendirian rumah sakit ini menjadi tonggak awal hadirnya layanan medis formal untuk menangani gangguan kejiwaan di Hindia Belanda, pada saat masyarakat pribumi masih sepenuhnya bergantung pada cara-cara tradisional dalam memahami dan mengobati gangguan jiwa.

Sebelum abad ke-19, gangguan kejiwaan kerap dianggap berkaitan dengan kekuatan gaib atau kerasukan.

Akibatnya, pengobatan dilakukan melalui ritual adat, bantuan dukun, atau tabib. Penderita yang dinilai tidak terlalu membahayakan biasanya ditoleransi dan dibiarkan hidup di masyarakat, sementara mereka yang dianggap berbahaya kerap dipasung, dikurung, atau ditelantarkan.

Minimnya fasilitas dan rendahnya pemahaman membuat kondisi orang dengan gangguan jiwa sangat memprihatinkan.

Pendekatan berbasis medis hampir tidak dikenal, dan nasib para pasien sangat bergantung pada persepsi sosial serta kepercayaan setempat.

Kesadaran pemerintah kolonial untuk menghadirkan layanan kesehatan jiwa muncul setelah dua dokter, FH Bauer dan WM Smit, ditugaskan meneliti kondisi kesehatan mental di Jawa.

Penelitian yang dirilis pada 1868 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 550 orang dengan gangguan jiwa yang hidup dalam kondisi tidak layak, banyak di antaranya dipasung atau ditampung di rumah sakit militer yang tidak dirancang untuk perawatan psikiatri.

Temuan ini memicu perhatian pemerintah Hindia Belanda, hingga akhirnya diterbitkan Surat Keputusan Kerajaan No. 100 tahun 1865 yang menyetujui pembangunan dua rumah sakit jiwa di Hindia Belanda.

Bogor dan Malang menjadi kandidat utama karena udara yang sejuk dan tersedianya lahan luas. Setelah peninjauan oleh tim medis, pemerintah memilih Landerien Bloeboer di Buitenzorg sebagai lokasi pertama.

Pertimbangan tersebut diperkuat oleh pandangan dr. Smit yang menilai bahwa pemulihan pasien membutuhkan lingkungan terbuka dan ruang gerak yang luas.

Pembangunan kemudian dimulai dan rumah sakit resmi beroperasi pada 1882 sebagai pusat layanan kesehatan jiwa pertama di wilayah jajahan Belanda.

Pada masa awalnya, rumah sakit mempekerjakan 35 pegawai Eropa dan 95 pegawai pribumi serta keturunan Tionghoa. Tiga dokter bertugas, yaitu dr. FH Bauer sebagai direktur medis pertama, dibantu dr. J.W. Hofmann, serta seorang dokter pribumi bernama dr. Sumeru.

Salah satu metode perawatan yang diterapkan adalah terapi kerja. Pasien dilibatkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari berkebun, membersihkan bangsal, bekerja sebagai tukang kayu, penjilid buku, pengukir kayu, hingga penganyam rotan.

Konsep ini berkembang menjadi semacam koloni pertanian di dalam lingkungan rumah sakit dan dianggap membantu membentuk rutinitas pasien.

Meski demikian, metode perawatan pada masa itu belum sepenuhnya manusiawi. Pengasingan, pengurungan, hingga pengikatan dengan fixir masih digunakan untuk menenangkan pasien yang berontak.

Penggunaan dwangjas atau jaket pembatas gerak juga menjadi bagian dari praktik penanganan psikiatri era kolonial.

Situasi rumah sakit berubah drastis pada masa pendudukan Jepang. Rumah sakit dialihfungsikan menjadi tempat penampungan tentara Jepang, sehingga jumlah pasien menurun bukan karena keberhasilan perawatan, tetapi akibat kelaparan, kekurangan obat, dan tingginya angka kematian. Banyak pasien dipaksa keluar atau dipindahkan tanpa kejelasan.

Setelah Indonesia merdeka, rumah sakit ini kembali menjalankan fungsi awalnya sebagai pusat perawatan gangguan kejiwaan dan kemudian berkembang menjadi institusi rujukan nasional.

Namanya kemudian berubah menjadi Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi sebagai penghormatan terhadap salah satu tokoh psikiatri Indonesia.

Hingga kini, rumah sakit tersebut menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan kesehatan jiwa di Indonesia, dari masa kolonial hingga era modern, dan tetap menjadi fondasi penting bagi pelayanan psikiatri di tanah air.

Penulis: Agil Prasetyo

Editor : Dwi Siswanto
#bogor #hindia belanda #indonesia #RSJ bogor #kesehatan jiwa