Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Jejak Panjang Musik Keroncong di Nusantara

Dwi Siswanto • Rabu, 10 Desember 2025 | 18:44 WIB
FOTO: diambil dari website etnis.id
FOTO: diambil dari website etnis.id

Halo Jember - Keroncong sering dianggap musik lawas, tapi perjalanan hidupnya jauh lebih seru dari yang banyak orang kira.

Genre ini datang ke Nusantara bukan sebagai musik lokal, melainkan sebagai “oleh-oleh budaya” dari para pendatang Portugis sejak abad ke-16.

Mereka menetap di Kampung Tugu, wilayah kecil di Jakarta Utara yang saat itu terisolasi.

Di sanalah memori musik Eropa itu kembali dihidupkan, lengkap dengan gitar kecil yang menghasilkan bunyi krong-crong, bunyi yang akhirnya melekat sebagai nama keroncong.

Yang menarik, keroncong tidak lahir untuk panggung megah. Ia bertumbuh dari ruang-ruang rakyat, dari acara kumpul komunitas, sampai pentas teater komedi Stamboel yang ngehits di awal abad ke-20.

Meski datang dari Eropa, justru kelompok peranakan Indo-Eropa kelas bawah yang pertama kali jatuh cinta pada musik ini.

Belum ada rekaman, belum ada industri, tapi orang rela beli tiket demi mendengar alunannya secara langsung.

Begitu bersentuhan dengan budaya lokal, keroncong berubah total. Instrumen Portugis bercampur dengan alat musik Nusantara seperti suling bambu dan rebana.

Permainannya jadi lebih lembut, melodinya makin melingkar, dan karakter keroncong tiba-tiba terdengar sangat “Indonesia” meski akarnya tidak lahir di sini.

Dari situ pula muncul struktur lagu yang khas, dengan interlude panjang dan lirik-lirik puitis bernuansa nostalgia.

Saat semangat kebangsaan menguat, keroncong ikut bergerak bersama zamannya. Banyak lagu perjuangan yang memakai nuansa keroncong, sampai akhirnya lahir karya ikonik seperti “Bengawan Solo”.

Radio dan rekaman pada era berikutnya membuat genre ini semakin mengakar, melahirkan nama-nama besar yang terus membawa keroncong ke generasi selanjutnya.

Baca Juga: Dari Semboro Terbang ke Langit Jember: Makna dibalik Tradisi Tota’an Merpati

Perjalanan keroncong tidak berhenti di situ. Di Yogyakarta, keroncong bertemu gamelan dan muncul campursari, bukti bahwa genre ini selalu terbuka dan tidak pernah alergi eksperimen.

Bahkan sampai sekarang, banyak musisi muda mencoba mencampurnya dengan jazz, pop, atau musik modern lainnya tanpa membuat identitasnya hilang.

Walaupun sering dicap sebagai musik orang tua, keroncong justru menunjukkan daya tahan yang jarang dimiliki genre lain.

Ia sudah melewati kolonialisme, revolusi budaya, era kaset, radio, sampai dunia digital.

Dan hebatnya, ia tetap hidup di panggung-panggung kecil, festival budaya, sampai playlist generasi baru yang mulai penasaran dengan akar musik Indonesia.

Keroncong akhirnya jadi simbol penting bahwa budaya Indonesia tidak selalu lahir dari tanah Indonesia.

Kadang ia datang dari jauh, bercampur dengan kehidupan lokal, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru.

Musik ini mungkin datang sebagai “pendatang”, tapi berkembang sebagai suara yang sangat Indonesia.

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

 

Editor : Dwi Siswanto
#jakarta utara #oleh oleh budaya #nusantara #dunia hiburan #musik keroncong