JEMBER – Museum Telu menambah enam koleksi baru bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun (HUT) pertamanya, Minggu (3/1).
Perayaan tersebut dikemas dengan nuansa budaya melalui pertunjukan musik karawitan oleh Sanggar Mustika Budaya dan dihadiri berbagai pegiat seni, budayawan, serta perwakilan instansi pendidikan dan pariwisata.
Enam koleksi baru yang diluncurkan mencerminkan kekayaan sejarah, seni, dan budaya Nusantara.
Koleksi tersebut terdiri atas Tenun Nusa Tenggara Timur (NTT), Tapis Lampung, Tenun Toraja, Keramik Lukis Biru abad ke-19, Tureen sup, serta piring keramik abad ke-19. Selain itu, Museum Telu juga ada Kluntung Sapi yang memiliki nilai sejarah perjuangan.
Kurator Museum Telu, Ade Shiddiq, menjelaskan bahwa setiap koleksi memiliki makna simbolis yang kuat.
Tenun NTT, misalnya, mencerminkan identitas sejarah dan spiritual masyarakatnya dengan motif kuda, burung, dan binatang lain yang melambangkan keberanian, kesetiaan, harmoni, serta hubungan manusia dengan alam dan leluhur.
Tapis Lampung menggambarkan perjalanan hidup, kepercayaan, serta status sosial masyarakat Lampung, sekaligus mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.
Sementara itu, Tenun Toraja menjadi simbol kepercayaan terhadap leluhur, keagungan Tuhan, keberanian, kesuburan, hingga pandangan tentang kehidupan setelah kematian.
Dari koleksi keramik, Keramik Lukis Biru abad ke-19 menjadi salah satu yang menarik perhatian. Keramik ini memiliki motif bermakna harapan dan keberuntungan, dengan pengaruh Dinasti Song.
Ada pula Tureen sup yang digunakan sejak abad ke-18 sebagai wadah penyaji sup, buatan Jepang, yang mencerminkan fungsi kehangatan, keanggunan, dan kebersamaan.
Piring keramik abad ke-19 digunakan sebagai tempat jajanan atau kue basah, yang memadukan fungsi utilitas, simbolisme budaya, dan apresiasi estetika.
Baca Juga: Merdeka Harga Mati ! Lomba Baca Puisi yang Menggema di Museum Telu Jember
Pembina Yayasan Lima Cahaya Berkah Nusantara yang menaungi Museum Telu, Priwahyu Hartanti, menyampaikan bahwa seluruh koleksi baru tersebut berasal dari para donatur.
“Enam koleksi baru ini merupakan sumbangan dari donatur yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian sejarah dan budaya,” ujarnya.
Museum Telu yang berlokasi di RT 3 Nomor 3 ini merupakan museum swasta termuda di Jember. Bangunan museum berasal dari rumah yang diwakafkan dan kemudian dikembangkan menjadi ruang edukasi publik.
Meski tergolong baru, Museum Telu bersama beberapa museum lain di Jember, seperti Museum Kaliber dan Museum Tembakau, yang telah terdaftar secara resmi dalam registrasi museum nasional.
Kepala Museum Telu, Moch. Hasan, mengatakan pihaknya berkomitmen menjadikan museum sebagai ruang belajar yang menyenangkan, terutama bagi generasi muda.
“Kami ingin mengajak masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi Z, untuk berekreasi ke museum, bukan hanya ke mal. Bangsa ini memiliki peradaban unggul sejak dulu, dan itu bisa kita pelajari di museum,” katanya.
Museum Telu juga memiliki agenda tahunan, di antaranya penambahan koleksi, kolaborasi seni budaya, serta kegiatan edukatif seperti yang melukis di media gerabah hingga lomba baca puisi.
Perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Oky Anis, menyampaikan dukungannya terhadap keberadaan Museum Telu. Menurutnya, museum memiliki peran penting dalam pendidikan karakter.
“Peserta didik tidak hanya mengenal dan menghargai kebudayaan, tetapi juga diharapkan mencintainya. Kami berharap Museum Telu bisa bersinergi dengan satuan pendidikan formal dan nonformal, termasuk pendidikan usia dini, PKBM, dan vokasi,” ujarnya.
Editor : Dwi Siswanto