Banjir yang membawa material lumpur dan merusak puluhan rumah ini mendorong warga untuk mengambil langkah pencegahan yang lebih proaktif, tidak hanya mengandalkan bantuan darurat.
Baca Juga: BREAKING NEWS, Mantan Sekdes Pakis yang Terseret Banjir Bandang Panti Jember Sudah Ditemukan
Pentingnya Pencegahan: Mitigasi Berbasis Komunitas
Berkaca pada kejadian rutin, masyarakat di Panti ada yang mulai bergerak mandiri dengan melakukan aksi nyata.
Penanaman rumput Vetiver di sempadan sungai mulai intensif dilakukan untuk memperkuat struktur tanah dari erosi yang menyebabkan pendangkalan sungai.
Selain itu, menumbuhkan kesadaran membuang sampah sembarangan mulai diubah menjadi gerakan ekonomi sirkular.
Warga mengolah sampah anorganik yang kerap menyumbat aliran sungai menjadi kerajinan bernilai jual, sekaligus mengurangi potensi penyumbatan di DAM.
Para relawan dan Desa Tangguh Bencana (Destana) pun rutin membersihkan selokan dan memastikan tidak ada sampah yang menghambat aliran irigasi.
Pentingnya Penanganan Saat Banjir: Sistem Peringatan Dini
Pemerintah Kabupaten Jember, melalui BPBD, telah mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini, terutama saat hujan intensitas tinggi terjadi di kawasan atas.
Adapun langkah penanganan saat terjadi banjir di Panti yaitu:
Pengaktifan Destana: Tim Desa Tangguh Bencana (Destana) segera mengevakuasi warga, khususnya lansia dan anak-anak, ke tempat yang lebih tinggi.
EWS (Early Warning System): Penggunaan alat peringatan dini berbasis komunitas, seperti kentongan atau pengeras suara masjid, diaktifkan saat debit Sungai Petung meningkat secara drastis.
Pembersihan Material Lumpur: Penanganan darurat fokus pada pembersihan material lumpur agar tidak mengeras di rumah dan pekarangan warga.
Baca Juga: Banjir Bandang Panti Jember Telan Korban, Mantan Sekdes Pakis Hilang Terseret
Koordinasi Stakeholder: BPBD Jember terus berkoordinasi untuk pemenuhan kebutuhan logistik darurat bagi warga terdampak.
Pentingnya Antisipasi Jangka Panjang
Pemerintah Kabupaten Jember pun telah melakukan pembentukan Satgas Infrastruktur untuk menangani masalah banjir akibat pendangkalan dan tata ruang yang kurang tepat.
Warga diharapkan mematuhi zona aman untuk tidak membangun bangunan di bantaran sungai guna meminimalisir risiko.
Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Panti dan Rambipuji, Seorang Warga Jember Dilaporkan Terseret Arus
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan kesadaran masyarakat di Panti, upaya penanganan banjir diharapkan tidak hanya darurat, tetapi juga preventif secara berkesinambungan. Dengan demikian, ancaman banjir dapat diminimalisasi.
Sempat diberitakan, lumpur banjir merendam dua rumah warga. Dua dapur warga hancur setelah tergerus derasnya arus banjir.
Kedua rumah itu adalah milik Haris, 52, dan Mistiono, 55. Sementara rumah Yuliatin, 37, dan Abdul Wahid, 52, hancur total akibat fondasi bronjong di belakang rumahnya tergerus banjir sungai. (nur)
Editor : Hariri HJ