Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Sunaidah Tak Pernah Lupa Malam Itu: Detik-Detik Banjir Bandang Panti Jember yang Merenggut Ratusan Nyawa

Sidkin • Selasa, 3 Februari 2026 | 10:00 WIB

 

6 Sungai Alami Kenaikan Debit, Jember Dikepung Banjir, BPBD Masih Lakukan Penanganan
6 Sungai Alami Kenaikan Debit, Jember Dikepung Banjir, BPBD Masih Lakukan Penanganan

Halojember.jawapos.com - Malam itu seharusnya berjalan seperti malam-malam lain di Kecamatan Panti. Namun menjelang pergantian tahun 2006, segalanya berubah dalam hitungan jam.

Sekitar pukul 20.00 WIB, banjir bandang pertama datang menghantam permukiman warga. Rumah-rumah roboh, bangunan porak poranda, dan kepanikan merebak di tengah gelapnya malam.

Air bah itu belum menjadi akhir. Beberapa jam kemudian, tepat pukul 01.00 dini hari, banjir kedua datang dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Bencana tersebut meninggalkan luka mendalam. Lebih dari seratus warga kehilangan nyawa, sementara lebih dari 400 penduduk lainnya kehilangan tempat tinggal.

Minimnya edukasi dan mitigasi kebencanaan kala itu membuat masyarakat tak siap menghadapi risiko sebesar itu.

Sunaidah, warga Dusun Gaplek, Desa Suci, Kecamatan Panti, menjadi salah satu yang selamat. Namun, kenangan malam itu masih jelas terpatri di ingatannya.

Ia mengingat betul bagaimana langit terlihat begitu gelap sejak sore hari. Bahkan sejak pukul 15.00 WIB, suasana sudah menyerupai petang.

Lampu diesel yang biasa menerangi permukiman juga padam. Hujan telah turun hampir tanpa jeda sejak beberapa hari sebelumnya.

“Warga mulai resah. Sudah tiga hari hujan terus seperti itu,” kenang Sunaidah, beberapa tahun lalu.

Malam itu, banyak warga memilih tidak tidur. Mereka berjaga di depan rumah masing-masing, waspada jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang buruk.

Hujan turun dengan intensitas yang tak biasa, lebih deras dan lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Sunaidah, ada pertanda-pertanda yang kala itu belum dipahami warga. Hampir setiap rumah didatangi semut dan lebah dalam jumlah banyak.

Hewan-hewan itu enggan pergi, meski sudah diusir dengan berbagai cara. “Bukan cuma satu rumah. Semua rumah didatangi,” katanya pelan.

Saat itu, warga belum mengerti makna di balik kejadian tersebut. Pemahaman itu baru datang setelah bencana merenggut begitu banyak nyawa. Seolah-olah alam memberi tanda agar warga menjauh dan menyelamatkan diri.

Selepas Isya, air keruh bercampur lumpur mulai turun dari lereng Gunung Argopuro. Arusnya deras dan tanpa ampun. Sunaidah saat itu sedang menggendong anaknya yang masih berusia enam tahun.

Ia berlari bersama suaminya menuju tempat yang lebih tinggi. Di belakang mereka, air bah menyapu rumah-rumah warga. Teriakan minta tolong bersahutan di tengah gelap dan hujan.

Beberapa jam kemudian, hujan sempat mereda. Air mulai surut. Warga berharap itu menjadi akhir dari petaka. Namun harapan itu pupus ketika banjir kedua datang pada dini hari.

“Yang kedua jauh lebih besar,” ujar Sunaidah.

Air bercampur lumpur kembali menghantam permukiman. Bahkan, sebuah pabrik kopi di kawasan Perkebunan Gunung Pasang dilaporkan meledak akibat terjangan banjir.

Banjir kedua menjadi yang paling mematikan. Sejumlah warga Dusun Gaplek yang berlindung di pabrik karet tak sempat menyelamatkan diri ketika bangunan itu roboh. Reruntuhan pabrik merenggut 13 nyawa sekaligus.

Karyadi, warga lainnya, memilih mengungsi ke lereng Gunung Pasang. Bersama beberapa tetangga, ia mendirikan tenda darurat dari terpal seadanya di tempat yang lebih tinggi. Keputusan itu menyelamatkan mereka dari terjangan arus.

Banjir baru benar-benar surut saat siang hari. Banyak ternak warga tak terselamatkan, meski sebelumnya telah dikumpulkan di lapangan Dusun Gaplek. Bantuan pun belum segera datang. Selama hampir dua hari, warga bertahan dengan bahan makanan yang tersisa.

“Kami masak apa yang ada, lalu makan bareng-bareng,” tutur Karyadi.

Sekretaris Kecamatan Panti saat itu, Mursidi, turun langsung mendata korban. Ia mencatat lebih dari 100 warga meninggal dunia.

Banyak jenazah ditemukan menumpuk di kawasan Pasar Benut, Desa Kemiri, tak jauh dari jembatan menuju Perkebunan Gunung Pasang hingga Sungai Kaliputih.

Puluhan tahun telah berlalu sejak tragedi itu. Luka memang tak sepenuhnya hilang, tapi kehidupan perlahan bangkit.

Aktivitas ekonomi warga kembali bergerak. Toko-toko kecil bermunculan, usaha rumahan tumbuh, dan geliat pariwisata mulai terlihat. Budidaya jamur menjadi salah satu usaha baru yang berkembang.

Sunaidah dan Karyadi pun merasakan perubahan itu. Kehidupan mereka kini berangsur membaik, bahkan lebih stabil dibanding sebelum bencana.

Rasa cemas yang dulu menghantui kini mulai pudar. Sosialisasi kebencanaan yang rutin dilakukan pemerintah membuat warga lebih siap dan waspada.

“Sekarang kami lebih tahu harus berbuat apa,” kata Sunaidah.

Bagi mereka, malam kelam itu akan selalu diingat. Bukan hanya sebagai duka, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah kunci untuk bertahan hidup.


*) Refleksi cerita Sunaidah, saksi hidup banjir bandang Panti tahun 2006. Tulisan ini dikutip dari tahun 2020.

Editor : Sidkin
#jember #2006 #banjir bandang #Panti #banjir #kesaksian warga #Penyintas Bencana