JEMBER, Halojember.jawapos.com - Ratusan siswa dan guru di Kabupaten Jember, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan sesuai mengonsumsi menu makanan bergizi gratis (MBG), Kamis (5/2/2026).
Informasi yang dihimpun Halojember, sebanyak 112 orang di SMP Negeri 1 Umbulsari. Jember, mengalami gejala sakit perut, mual, dan diare.
Ratusan orang itu terdiri dari 99 siswa dan 13 guru.
Para korban mengaku mengalami gejala itu pada Rabu malam (3/2/2026).
Keesokan harinya, Kamis (5/2/2026), para siswa tampak bolak-balik ke kamar mandi karena mual dan ingin buang air besar.
Bahkan sempat terjadi antrean panjang di toilet sekolah karena keluhan muncul hampir bersamaan.
Berdasar pengakuan siswa, keluhan itu memang sudah mulai dirasakan sejak Rabu malam.
Dugaan sementara itu muncul setelah mengonsumsi menu MBG sebelumnya, berupa nasi putih, ayam bakar, sambal, serta lalapan kubis dan kacang panjang.
Baca Juga: Viral Menu MBG di Jember, Isinya Dinilai Tak Layak Bikin Netizen Geram
Diketahui, penyedia makanan tersebut dikelola oleh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Umbulsari.
Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Jember Muhammad Ridoi mengatakan, laporan awal diterima siang hari.
Pihaknya segera menurunkan jajaran untuk melakukan pengecekan langsung ke sekolah.
Baca Juga: Update Menu MBG Viral, Pemkab Jember Sidak ke SPPG, Ini Temuannya
Dari hasil pemantauan, ditemukan para siswa mengeluhkan sakit perut, mual, hingga buang air besar.
“Memang ada beberapa siswa yang mengalami sakit perut, tetapi langsung kami tindak lanjuti dengan pengecekan di lapangan,” ujarnya.
Petugas kesehatan datang ke sekolah untuk melakukan pemeriksaan dan pemberian obat.
Beberapa siswa dilarikan ke Puskesmas Umbulsari. Tetapi sebagian besar hanya mengalami gejala ringan dan diperbolehkan pulang.
Baca Juga: Update Keracunan MBG Mojokerto, Korban Bertambah Jadi 349 Orang, Pemerintah Selidiki Penyebabnya
Pihaknya juga belum menerima ada laporan serupa dari sekolah lain.
Mengenai dugaan keracunan dari menu MBG, dia belum bisa berkomentar lebih lanjut.
"Kami tidak berwenang menyimpulkan soal itu. Tetapi, sampai sore ini, kami belum menerima laporan dari sekolah lain. Namun, kami akan terus memantau perkembangannya,” pungkasnya.*
Editor : Sidkin