Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Suwar Suwir

Bulog Jember Targetkan 84 Ribu Ton Beras dan 10 Ribu Ton Jagung, Ini Strateginya

Sidkin • Kamis, 12 Februari 2026 | 20:10 WIB

 

Salah satu petani Jember. Bulog Jember Targetkan 84 Ribu Ton Beras dan 10 Ribu Ton Jagung, Ini Strateginya
Salah satu petani Jember. Bulog Jember Targetkan 84 Ribu Ton Beras dan 10 Ribu Ton Jagung, Ini Strateginya

JEMBER, Halojember - Jember diproyeksikan menjadi salah satu daerah penopang utama target swasembada pangan nasional 2026.

Sesuai instruksi Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Perum Bulog ditugaskan menyerap empat juta ton beras dan satu juta ton jagung secara nasional.

Di tingkat daerah, Jember memegang peran strategis karena selama ini dikenal sebagai sentra produksi padi dan jagung di Jawa Timur.

Sepanjang 2025, Bulog Cabang Jember mencatat realisasi penyerapan gabah petani mencapai 118 ribu ton. Ini menjadi capaian tertinggi di Jawa Timur.

Realisasi itu bahkan menembus 110 persen dari target yang telah ditetapkan.

Capaian tersebut menjadi pijakan penting untuk menyusun strategi penyerapan tahun 2026.

Kepala Bulog Kantor Cabang Jember, M Ade Saputra, menyebut, tahun 2026, Jember kembali ditarget menyerap setara 84 ribu ton beras.

Jumlah itu diperkirakan setara dengan sekitar 175 ribu ton Gabah Kering Panen (GKP).

Selain beras, Bulog Jember juga mendapat target serapan jagung sebesar 10 ribu ton.

“Bulog Jember ditarget sekitar 84 ribu ton setara beras serta 10 ribu ton jagung,” ujar Ade.

Ia menjelaskan, evaluasi tahun 2025 menunjukkan kualitas gabah menjadi faktor utama keberhasilan serapan.

Gabah yang disetor harus cukup umur panen agar menghasilkan rendemen beras maksimal saat digiling.

Gabah rusak, terendam air, atau belum matang tidak akan memenuhi standar kualitas.

“Kualitas gabah sangat menentukan hasil beras, jadi harus memenuhi unsur persyaratan,” tegasnya.

Selain kualitas, akurasi timbangan di tingkat kelompok tani dan gabungan kelompok tani juga menjadi perhatian.

Bulog meminta seluruh timbangan telah terkalibrasi untuk menghindari selisih ukuran saat transaksi.

Harga pembelian gabah tetap Rp 6.500 per kilogram di tingkat petani.

Ade juga menganjurkan panen dilakukan di atas pukul 09.00 WIB untuk mengurangi kadar air akibat embun pagi.

Untuk komoditas jagung, Bulog menerapkan dua skema harga sesuai kadar air dan kandungan aflatoksin.

Jagung pipilan kering dengan kadar air 18–20 persen dan aflatoksin maksimal 50 ppb dibeli Rp 5.500 per kilogram.

Sementara jagung dengan kadar air maksimal 14 persen dan aflatoksin 50 ppb dihargai Rp 6.400 per kilogram di gudang Bulog.

“Kami juga membentuk tim jemput gabah bersama TNI dan PPL agar jadwal panen bisa terpantau,” tambahnya.*

Editor : Sidkin
#beras #bulog #serapan gabah #jember #jagung #swasembada pangan #gabah #Bapanas #pangan nasional #GKP