Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Bedah Buku Babad Alas di Unej, Wamendagri Bima Arya Sentil Beratnya Memimpin, Gus Fawait Paparkan Reformasi Jember

Sidkin • Jumat, 13 Februari 2026 | 20:30 WIB

Wamendagri Bima Arya saat membedah buku Babad Alas di FISIP UNEJ, Jumat sore (13/2/2026). Hal ini pun ditanggapi Bupati Jember Muhammad Fawait.
Wamendagri Bima Arya saat membedah buku Babad Alas di FISIP UNEJ, Jumat sore (13/2/2026). Hal ini pun ditanggapi Bupati Jember Muhammad Fawait.

JEMBER, Halojember- Kepemimpinan daerah bukan sekadar panggung politik, melainkan ujian integritas dan strategi dalam menuntaskan persoalan rakyat.

Gagasan itu mengemuka saat bedah buku Babad Alas karya Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto, yang digelar di Aula FISIP Universitas Jember, Jumatsore  (13/2/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Jember Muhammad Fawait, yang akrab disapa Gus Fawait.

Dalam pemaparannya, Wamendagri Bima menegaskan bahwa tantangan sesungguhnya seorang pemimpin justru muncul setelah kontestasi politik usai.

Ia menyebut, menjalankan pemerintahan jauh lebih berat dibandingkan masa kampanye.

“Beratnya kampanye itu tidak seujung kuku dibanding menjalankan pemerintahan. Saat kampanye, lawan terlihat jelas. Namun saat memimpin, tidak selalu jelas siapa kawan dan siapa yang berseberangan,” urainya.

Bima mengibaratkan kepemimpinan seperti tokoh Bima dalam pewayangan yang membuka Alas Amarta, sebuah proses yang penuh risiko dan membutuhkan keseimbangan antara keberanian bertindak dan kebijaksanaan moral.

Wamendagri Bima Arya berfoto bersama Bupati Jember Muhammad Fawait, sivitas akademika FISIP Unej, dan sejumlah undangan.
Wamendagri Bima Arya berfoto bersama Bupati Jember Muhammad Fawait, sivitas akademika FISIP Unej, dan sejumlah undangan.

Menurutnya, kebijakan publik harus berpijak pada nilai inklusivitas serta keberpihakan kepada masyarakat, bukan sekadar kalkulasi politik jangka pendek.

Merespons pandangan tersebut, Gus Fawait menyatakan pengalaman yang disampaikan Bima menjadi cermin dinamika yang ia hadapi di Kabupaten Jember.

Ia mengungkapkan, saat awal memimpin, Jember dihadapkan pada persoalan serius.

Mulai dari angka kemiskinan ekstrem tertinggi di Jawa Timur hingga masalah stunting dan kesehatan ibu-anak.

“Kami tidak punya pilihan selain melakukan reformasi pelayanan publik secara radikal. Prioritas utama kami adalah menjamin hak dasar masyarakat melalui optimalisasi jaminan kesehatan hingga mencapai Universal Health Coverage (UHC),” tegasnya.

Selain sektor kesehatan, Pemkab Jember juga mendekatkan layanan administrasi kependudukan hingga tingkat desa untuk memangkas hambatan jarak dan waktu yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

Fawait juga mendorong Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadi instrumen strategis penggerak ekonomi daerah, bukan sekadar entitas pencari laba.

Ia bahkan melaporkan adanya kenaikan signifikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam satu tahun terakhir sebagai indikator penguatan kapasitas fiskal pembangunan.

Bedah buku ini pun menjadi ruang refleksi bahwa kepemimpinan daerah menuntut keteguhan nilai, keberanian mengambil keputusan, serta komitmen berpihak pada rakyat.

Kolaborasi gagasan antara tokoh nasional dan kepala daerah tersebut diharapkan menjadi pelecut semangat birokrasi Jember untuk terus berinovasi di tengah berbagai keterbatasan.*

Editor : Sidkin
#Gus Fawait #babad alas #Wamendagri Bima Arya #bima arya sugiarto #jember #Fisip Unej #Wamendagri #bedah buku #bupati jember