Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Ribuan Warga Gaza Dikabarkan “Menguap” Akibat Senjata Termal Israel, Ini Faktanya!

Yulio Rj • Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:16 WIB

Ilustrasi: kehancuran setelah serangan udara Israel di Gaza City, Jalur Gaza Palestina, (Foto: X)
Ilustrasi: kehancuran setelah serangan udara Israel di Gaza City, Jalur Gaza Palestina, (Foto: X)

Halojember - Konflik bersenjata di Gaza kembali menjadi sorotan setelah sebuah investigasi media internasional merilis laporan yang menyebut ribuan warga sipil Palestina “lenyap” atau “menguap” tanpa jejak akibat serangan militer Israel menggunakan amunisi bersuhu tinggi.

Laporan ini menimbulkan keprihatinan luas sekaligus perdebatan internasional terkait dampak penggunaan senjata tersebut terhadap warga sipil.

Investigasi yang ditayangkan oleh stasiun televisi Al Jazeera dalam program khusus bertajuk The Rest of the Story menyebut bahwa tim pertahanan sipil di Gaza mendokumentasikan sekitar 2.842 warga Palestina yang tidak lagi ditemukan batang tubuhnya setelah serangan sejak perang besar dimulai pada Oktober 2023.

Istilah evaporated atau “menguap” digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana jenazah korban tidak bisa ditemukan secara utuh di lokasi serangan.

Menurut dokumentasi yang dikumpulkan oleh tim pertahanan sipil, ribuan warga yang hilang ini terlihat tidak meninggalkan jejak selain percikan darah atau fragmen kecil jaringan tubuh.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa dugaan hilangnya jejak fisik itu terkait dengan penggunaan senjata termal dan termobarik—jenis amunisi yang menghasilkan suhu tinggi dan gelombang tekanan kuat saat meledak.

Senjata jenis ini disebut mampu menghancurkan struktur bangunan sekaligus menimbulkan dampak fatal pada korban di sekitarnya, terutama di area padat penduduk seperti Gaza.

Senjata termobarik, yang juga dikenal sebagai bom tekanan atau vacuum bombs, menggunakan oksigen dari udara untuk menghasilkan ledakan berkekuatan tinggi dan temperatur yang sangat tinggi hingga ribuan derajat Celsius.

Hal itu diyakini mampu menghancurkan materi organik hampir sepenuhnya.

Penggunaan senjata semacam ini di area sipil menimbulkan pertanyaan serius mengenai hukum humaniter internasional dan prinsip perlindungan warga sipil dalam perang.

Namun, klaim tersebut juga mendapatkan sorotan kritis. Beberapa pemeriksa fakta dan pengamat militer menyatakan bahwa anggapan bahwa ribuan korban benar-benar “menguap” atau tidak meninggalkan sisa jasad merupakan klaim yang kontroversial dan belum dibuktikan secara ilmiah.

Mereka menunjukkan bahwa istilah itu sebagian besar berasal dari estimasi berdasarkan jumlah orang yang diketahui berada di suatu bangunan dibandingkan dengan jumlah badan yang ditemukan, dan bukan melalui bukti forensik independen.

Dalam konflik yang telah berkecamuk lebih dari dua tahun, warga sipil di Gaza telah menghadapi kondisi kemanusiaan yang memburuk, termasuk tingginya angka kematian dan kerusakan infrastruktur.

Laporan lain menyebut bahwa ribuan jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara dan artileri, dan proses pencarian serta identifikasi juga terus berlangsung.

Pernyataan resmi dari militer Israel atau pihak pemerintah terkait laporan tersebut hingga kini belum banyak tersedia, dan klaim penggunaan amunisi tertentu masih menjadi bahan debat antara pihak yang berbeda pandangan.

Apa yang jelas adalah fenomena konflik di Gaza telah menimbulkan dampak luas terhadap warga sipil bahkan di luar angka resmi korban yang selama ini dipublikasikan oleh otoritas kesehatan dan lembaga kemanusiaan.(yul)

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
#gaza #konflik bersenjata #israel #senjata