Jadikan Indonesia Sebagai Pusat Rumput Laut Dunia, Pemerintah Membangun Pusat Riset di Kawasan Teluk Ekas Lombok
Yulio Rj• Minggu, 15 Februari 2026 | 23:00 WIB
Wakil Menteri Diktisaintek Stella Christie (kiri) bersama Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin (tengah) meninjau lokasi pembangunan pusat riset rumput laut internasional di Desa Ekas, Kamis (12/2)
Halojember — Pemerintah Indonesia mengambil langkah konkret untuk memperkuat posisi negara sebagai pusat rumput laut dunia dengan membangun sebuah pusat riset rumput laut bertaraf internasional di Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pusat riset bernama International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) ini diresmikan peletakan batu pertamanya oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, pada Kamis (12/2/2026).
Wamen Stella menegaskan bahwa penguatan riset rumput laut menjadi bagian penting dari strategi nasional dalam transformasi ekonomi wilayah pesisir.
Indonesia saat ini memang menjadi produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, menguasai sekitar 75 persen pasar global komoditas tersebut.
Namun menurut Stella, dominasi produksi belum sepenuhnya diimbangi oleh penguatan kemampuan riset dan hilirisasi di dalam negeri.
“Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang,” kata Stella melalui keterangan resminya di Jakarta.
Teluk Ekas dipilih sebagai lokasi pusat riset karena kawasan ini telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir dan merupakan area budidaya serta tangkap yang strategis.
Lingkungan teluk tropis yang relatif terlindung dengan arus dan sirkulasi air yang baik dinilai ideal untuk dijadikan living laboratory bagi penelitian produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengembangan biomassa rumput laut berskala tropis.
Pusat riset ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional. Pemerintah menggandeng sejumlah institusi global seperti University of California, Berkeley serta Beijing Genomics Institute, yang berkomitmen mendukung pendanaan awal proyek ini. ]
Beijing Genomics Institute memberikan dukungan sekitar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, sementara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah mengalokasikan dana sekitar Rp1,5 miliar untuk tahap awal pembangunan fasilitas riset.
Fasilitas yang akan dibangun mencakup gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, laboratorium khusus, hingga sarana pendukung lain yang dirancang untuk mendukung kegiatan ilmiah bertaraf global.
Melalui ITSRC, diharapkan riset berbasis ilmiah dapat meningkatkan hasil tangkapan dan kualitas budidaya rumput laut dengan bibit unggul serta mendorong inovasi produk bernilai tambah, tidak hanya sekadar ekspor bahan mentah.
Selain jenis rumput laut Kappaphycus yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku karagenan, ITSRC juga menargetkan pengembangan jenis lain seperti Caulerpa, Ulva, dan Halymenia yang memiliki potensi pasar dan aplikasi industri yang luas.
Dengan pembangunan pusat riset ini, Indonesia berharap tidak hanya memperkuat posisi sebagai penghasil terbesar rumput laut dunia, tetapi juga menjadi pusat inovasi yang menghasilkan teknologi dan produk bernilai tinggi yang dapat bersaing di pasar global.(yul)