HALOJEMBER - Kabar duka menyelimuti dunia aktivisme dan musik tanah air.
Johnsony Marhasak Lumbantobing atau akrab disapa John Tobing atau Bung Tobing, pencipta lagu legendaris "Darah Juang", meninggal dunia pada usia 60 tahun.
Bung Tobing mengembuskan napas terakhir pada Rabu, 25 Februari 2026, pukul 20.45 WIB, di RSA UGM, Yogyakarta.
Penyebabnya, Bung Tobing meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit stroke dan pneumonia yang dideritanya.
Warisan Paling Legendaris:
Lagu "Darah Juang" tetap menjadi "lagu wajib" yang sakral dalam setiap aksi demonstrasi mahasiswa dan pergerakan rakyat di Indonesia sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Penghormatan Terakhir:
Kepergian sang maestro meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, hingga para aktivis lintas generasi.
Pesan terakhirnya menekankan bahwa lagu "Darah Juang" adalah milik rakyat dan bebas dinyanyikan oleh siapa saja untuk menyuarakan kebenaran.
Kenangan dan Penghormatan:
Banyak pihak merasa sangat kehilangan atas kepergian sosok yang dikenal humanis dan kritis ini:
Dunia Aktivisme:
Berbagai tokoh pergerakan, termasuk Wamen HAM Mugiyanto, turut menyampaikan belasungkawa mendalam atas jasa almarhum dalam mengobarkan semangat reformasi 1998.
Masyarakat Luas:
Ucapan doa dan tagar "Selamat Jalan Sang Darah Juang" membanjiri media sosial sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi sang maestro.
Salah satu netizen, faisalhakimrisadii mengucapkan bela sungkawa dan dan yakin karyanya akan sampai kiamat.
“Beristirahatlah Bung, karyamu akan selalu abadi,” ulasnya.
Selain itu, di banyak lokasi, termasuk di sjeumlah media sosial, juga banyak orang yang ikut berbela sungkawa.
Editor : Hariri HJ