Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Kemarau Datang Lebih Cepat, Ini Potensi Dampaknya bagi Pertanian, Petani Wajib Baca!

Yulio Rj • Kamis, 5 Maret 2026 | 14:03 WIB

Petani memanen padi dibawah terik matahari (yulio/halojember)
Petani memanen padi dibawah terik matahari (yulio/halojember)

Halojember – Prediksi musim kemarau yang datang lebih cepat pada 2026 mulai menjadi perhatian sektor pertanian.

Kondisi tersebut dinilai bisa memengaruhi pola tanam petani, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada air hujan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hampir setengah wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya.

Dari total zona musim di Indonesia, sekitar 46,5 persen diperkirakan memasuki kemarau lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologinya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, kemarau diperkirakan mulai terasa sejak April di sejumlah wilayah, termasuk sebagian Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Puncak musim kering diprediksi terjadi pada Agustus di lebih dari 60 persen wilayah Indonesia.

Perubahan pola musim tersebut berpotensi berdampak langsung pada petani.

Jika musim kering datang lebih cepat, ketersediaan air di sawah dan lahan pertanian bisa berkurang lebih awal dari biasanya.

Akibatnya, petani yang belum menyesuaikan jadwal tanam berisiko mengalami penurunan hasil panen. Terutama bagi petani yang mengandalkan tadah hujan tanpa dukungan irigasi permanen.

Selain itu, BMKG juga memperkirakan sebagian wilayah akan mengalami kondisi kemarau yang lebih kering dari normal.

Curah hujan selama musim kemarau diprediksi berada di bawah rata-rata di lebih dari separuh wilayah Indonesia.

Situasi tersebut membuat sektor pertanian harus lebih waspada.

Petani dianjurkan menyesuaikan kalender tanam serta mengatur penggunaan air secara lebih efisien agar tanaman tidak mengalami kekurangan air di tengah musim tanam.

Ardhasena menegaskan informasi prakiraan musim penting sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.

“Informasi iklim ini diharapkan bisa dimanfaatkan petani untuk menyesuaikan waktu tanam dan strategi budidaya,” ujarnya.

Jika langkah antisipasi tidak dilakukan, kemarau yang datang lebih cepat berpotensi memicu kekeringan di sejumlah sentra pertanian.

Dampaknya bukan hanya pada penurunan produksi, tetapi juga bisa memengaruhi ketersediaan pangan di beberapa daerah.

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
#musim kemarau #pertanian #cuaca #cepat #Per #petani