Halojember - "Ini bukan sekadar kekerasan jalanan, ini adalah operasi pembungkaman yang sangat rapi."
Kalimat dari Novel Baswedan ini seolah merangkum kengerian yang menimpa Andrie Yunus pada malam berdarah 12 Maret lalu.
Saat cairan korosif itu menghantam wajahnya, sebuah pesan dikirimkan kepada seluruh aktivis di negeri ini: Berhenti bicara, atau kalian berikutnya.
Narasi Podcast yang Menjadi "Vonis" Apa yang dilakukan Andrie hingga ia harus dihentikan dengan cara sehina ini?
Jawabannya ada pada rekaman podcast terakhirnya di YLBHI: "Remiliterisme dan Judicial Review UU TNI".
Di sana, Andrie membongkar ancaman nyata jika Revisi UU TNI disahkan. Ia menarasikan kebangkitan "Dwifungsi TNI 2.0", di mana prajurit aktif bisa menduduki jabatan sipil secara luas.
Baginya, ini adalah lonceng kematian bagi supremasi sipil yang diperjuangkan sejak Reformasi '98.
"Negara akan berada dalam kondisi bahaya jika militer kembali masuk ke ruang-ruang kebijakan publik tanpa kontrol,"
demikian inti narasinya yang menggetarkan.
Jika UU ini lolos, siapa yang paling diuntungkan?
- Perwira Tinggi & Menengah: Mereka akan mendapatkan karpet merah untuk menjabat di kementerian dan lembaga sipil, memperpanjang masa pengabdian hingga usia 62 tahun.
- Aktor Politik Anti-Kritik: Dengan militer di jabatan strategis, ruang debat dan kritik warga akan menyempit karena dibayangi pendekatan keamanan.
Muhamad Isnur (Ketua YLBHI) dengan tegas menyatakan,
"Negara harus bertanggung jawab! Serangan ini terjadi saat Andrie sedang melawan upaya pelemahan demokrasi."
Dejavu Novel Baswedan - Pola Impunitas yang Berulang
Sulit untuk tidak melihat kemiripan antara kasus Andrie dengan tragedi Novel Baswedan bertahun-tahun silam.
Keduanya adalah penyiraman air keras. Keduanya dilakukan setelah korban mengawal isu besar.
Dan yang paling mengkhawatirkan: pola penanganannya. Pada kasus Novel, butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk menangkap "kaki tangan" di lapangan, sementara aktor intelektualnya tetap melenggang bebas.
Fatia Maulidiyanti menyoroti kejanggalan di CCTV:
"Jalanan tiba-tiba sepi saat penyerangan, seolah ada perimeter yang dijaga. Ini sangat terorganisir." P
ertanyaannya: Apakah polisi berani menyentuh otak penyerang Andrie, ataukah ini akan berakhir sebagai "kasus gagal" lainnya?
Andrie Yunus kini terbaring dengan luka bakar 24%. Namun, pertaruhan terbesarnya bukan hanya pada fisiknya, melainkan pada suara-suara kritis kita.
Jika dalang kasus ini menguap begitu saja, maka teror telah menang.
Seperti kata Usman Hamid, "Kalian para pengecut mungkin bisa merusak fisik Andrie, tapi kalian tidak bisa membakar keberaniannya."
Akankah suara Andrie Yunus sia-sia, atau justru serangan ini akan menjadi pemantik perlawanan yang lebih besar?
Editor : Yulio Faruq Akhmadi