HaloJember – Pemerintah Iran menunjukkan sikap kaku dan kepercayaan diri tinggi dalam menanggapi sinyal penarikan pasukan yang dilontarkan Presiden AS, Donald Trump, untuk mengakhiri perang.
Alih-alih menyambut dengan kompromi, Teheran secara resmi memasang harga mahal bagi Washington jika ingin mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama beberapa pekan antara Iran vs AS-Israel.
Langkah ini dilakukan karena Iran merasa di atas angin setelah berhasil menembus pertahanan udara AS di Teluk dan menjangkau pangkalan strategis Diego Garcia.
Baca Juga: Kapan Perang Iran vs Israel-AS Akan Berakhir? Ini Jawabannya
Iran menegaskan, gencatan senjata tidak akan terjadi tanpa kompensasi politik dan ekonomi yang signifikan.
Syarat utama yang didiminta yakni tiga hal:
1. Pencabutan permanen seluruh sanksi ekonomi terhadap Iran.
2. Pengakuan kedaulatan penuh atas seluruh program nuklirnya tanpa intervensi.
3. Penarikan total seluruh aset militer Amerika Serikat dari kawasan Timur Tengah.
Analisis Pakar: Pergeseran Geopolitik Drastis
Pengamat militer dari International Institute for Strategic Studies (IISS), Dr. Marcus Thorne, menilai posisi Iran saat ini adalah hasil dari "kejutan teknologi" di medan tempur.
"Keberhasilan Iran menjangkau Diego Garcia telah mengubah peta permainan. Itu adalah pesan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi aset AS di kawasan tersebut," ujar Thorne.
Ia menambahkan bahwa tuntutan Iran bukan sekadar gertakan, melainkan upaya sistematis untuk mengusir pengaruh Barat secara permanen dari Timur Tengah saat posisi tawar AS melemah.
Reaksi Internasional: Dunia di Ambang Kecemasan
Tuntutan ekstrem Iran ini memicu reaksi beragam dari panggung dunia:
Uni Eropa: Melalui perwakilan tingginya, mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri.
Brussel menganggap syarat "pencabutan sanksi permanen" sebagai permintaan yang sulit dipenuhi secara hukum internasional dalam waktu singkat tanpa verifikasi nuklir yang ketat.
Israel: Menanggapi dengan keras
Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa pengakuan atas program nuklir Iran adalah "garis merah" yang tidak boleh dilewati.
Yerusalem memperingatkan akan melakukan tindakan mandiri jika Washington menyerah pada tuntutan Teheran.
Tiongkok dan Rusia:
Secara diplomatis mendukung posisi Iran mengenai kedaulatan, dengan menyatakan bahwa penarikan pasukan AS adalah langkah logis untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan Teluk.
Hingga kini, Gedung Putih masih bungkam.
Namun, para analis meyakini Presiden Trump berada dalam posisi sulit antara memenuhi janji kampanye untuk "mengakhiri perang yang tak berujung" atau menjaga martabat militer AS di mata sekutu globalnya.
Editor : Hariri HJ