Halojember - Tangerang Selatan, 27 Maret 2009. Langit masih hitam pekat. Sebagian besar warga di sekitar Situ Gintung terlelap setelah seharian diguyur hujan lebat. Tidak ada yang tahu bahwa waktu mereka tinggal hitungan detik.
Sekitar pukul 02.00 WIB, tanggul Situ Gintung jebol. Jutaan meter kubik air yang selama puluhan tahun tertahan di balik struktur beton tua itu tiba-tiba mengalir deras, cepat, dan tanpa ampun.
Gelombang setinggi beberapa meter menghantam Kampung Gintung, Kampung Poncol, dan permukiman di bawahnya. Tidak ada sirene. Tidak ada peringatan. Tidak ada waktu.
Tanggul Tua di Tengah Kota yang Tumbuh
Situ Gintung bukan proyek modern. Waduk ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1932-1933, awalnya untuk keperluan irigasi. Selama puluhan tahun, ia berdiri kokoh di tengah lahan yang kala itu masih sepi.
Pelan-pelan, permukiman berdiri mengelilingi waduk. Rumah-rumah berdiri hanya beberapa meter dari tanggul. Kawasan yang dulu kosong berubah menjadi lingkungan padat penduduk, tanpa perencanaan tata ruang yang memadai, tanpa jarak aman yang cukup.
Tanggul itu tetap berdiri. Tapi usianya terus bertambah.
Sejumlah laporan sebelumnya mencatat adanya retakan dan rembesan air di tubuh tanggul. Tanda-tanda itu ada. Namun tidak direspons secara serius.
Warga yang sesekali merasa khawatir akhirnya terbiasa karena tidak ada hal besar yang pernah terjadi, maka rasanya tidak akan pernah terjadi.
Hujan yang Tidak Biasa
Sehari sebelumnya, sore hingga malam tanggal 26 Maret 2009, hujan turun dengan intensitas tinggi di kawasan Ciputat dan sekitarnya. Cukup lama, cukup deras. Air di dalam waduk pun terus meningkat.
Bagi warga, hujan adalah hal biasa. Beberapa sempat melirik waduk yang terlihat lebih penuh dari biasanya. Ada yang merasa sedikit cemas. Tapi tidak ada instruksi resmi, tidak ada imbauan untuk waspada. Kehidupan berjalan seperti malam-malam lainnya. Lampu dimatikan. Pintu ditutup. Semua orang tidur.
Di dalam tanggul, tekanan air terus bertambah.
Tepat pukul 02.00 WIB, struktur yang sudah berumur hampir delapan dekade itu menyerah. Sebuah celah besar menganga. Dan dalam sekejap, semuanya berubah.
Hitungan Menit yang Menghancurkan Segalanya
Arus air yang tumpah bukan sekadar banjir biasa. Ia datang seperti tembok bergerak cepat: menyeret bangunan, kendaraan, pohon, dan apa saja yang ada di depannya. Banyak warga terbangun bukan karena mendengar peringatan, tapi karena air sudah masuk ke dalam rumah mereka.
Sebagian sempat berlari ke atap. Sebagian lainnya berpegangan pada apa pun yang bisa dijangkau. Sebagian lagi tidak sempat melakukan apa-apa.
Ketika fajar tiba, hamparan kehancuran terbentang seluas sekitar 10 hektare. Rumah-rumah rata dengan tanah. Jalan-jalan tertutup lumpur dan puing. Di beberapa titik, ketinggian air mencapai lebih dari dua meter.
Dilaporkan, lebih dari 100 orang meninggal dunia. Puluhan lainnya dinyatakan hilang. Ratusan orang luka-luka. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Itu terjadi hanya dalam gitungan menit.
Keluarga-keluarga mencari satu sama lain di antara puing. Ada yang menemukan. Banyak yang tidak. Trauma itu kemudian menetap lama.
Bagi para penyintas, suara hujan deras setelah kejadian selalu membawa kenangan yang sama: kegelapan, gemuruh air, dan kepanikan di dini hari.
Pagi harinya, kawasan Situ Gintung berubah menjadi lokasi evakuasi besar-besaran. Tim SAR, TNI, polisi, dan relawan berdatangan. Pengungsi ditampung di sekolah, masjid, dan kampus di sekitar lokasi.
Dua hari setelah bencana, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meninjau langsung lokasi dan memerintahkan investigasi menyeluruh.
Tapi bagi warga yang kehilangan keluarga dan rumah mereka, investigasi adalah urusan belakangan. Yang lebih nyata adalah kehilangan itu sendiri.
Tragedi Situ Gintung bukan hanya soal tanggul yang jebol. Ia adalah cerita tentang peringatan yang diabaikan, pertumbuhan kota yang tidak terkendali, dan ribuan nyawa yang tinggal berdampingan dengan bahaya tanpa pernah benar-benar menyadarinya.
Tujuh belas tahun telah berlalu. Situ Gintung kini telah direvitalisasi. Wajahnya berubah.
Tapi nama itu, Situ Gintung, tidak akan pernah sekadar nama sebuah waduk. Ia adalah pengingat bahwa bencana jarang datang tanpa tanda. Yang sering kali tidak hadir adalah kesiapan kita untuk mendengarnya.*
Editor : Sidkin