Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Air Laut Sempat Pasca Gempa, Warga Panik Takut Ada Tsunami, Namun Ombaknya Kecil

Hariri HJ • Kamis, 2 April 2026 | 19:45 WIB
Ilustrasi ombak surut. (nur hariri/ai/halojember)
Ilustrasi ombak surut. (nur hariri/ai/halojember)

HaloJember - Berdasarkan data terkini pascagempa magnitudo 7,6 yang mengguncang Laut Maluku Utara (2 April 2026), kondisi laut menunjukkan fenomena alam yang sangat menegangkan. Gempa dangkal akibat subduksi lempeng laut Maluku memicu deformasi dasar laut yang signifikan. 

Berikut adalah deskripsi kondisi laut saat gempa, kengerian air surut, dan dampaknya:

1. Detik-Detik Saat Gempa Terjadi

Guncangan Dahsyat: Gempa dirasakan sangat kuat di pesisir Maluku Utara (Ternate, Tidore, Halmahera) dengan intensitas V-VI MMI. Warga merasakan getaran keras yang membuat panik dan bangunan mengalami kerusakan ringan hingga sedang.

Baca Juga: Saat Gempa M7,6 Guncang Sulawesi Utara & Maluku Utara, Tim Gabungan Gerak Cepat Evakuasi Warga

Deformasi Dasar Laut: Gempa tektonik dangkal (sekitar 18-33 km) di Laut Maluku menyebabkan pergerakan lempeng naik (thrust fault) yang memicu deformasi dasar laut, yang menjadi pemicu utama tsunami.

2. Kengerian Air Laut Surut

Sesaat setelah gempa, fenomena air laut surut tiba-tiba terjadi di beberapa wilayah pesisir, seperti di Halmahera Barat (Desa Tataleka) dan Ternate.

Laut Mundur Secara Deras: Air laut tiba-tiba mundur jauh dari garis pantai, meninggalkan dasar laut yang biasanya terendam, termasuk ikan dan terumbu karang yang terdampar.

Baca Juga: Deretan Dampak Gempa Bumi M 7,6 yang Berpusat di Laut Maluku Utara, Cukup Dahsyat Mengerikan

Suara Gemuruh: Beberapa laporan menyebutkan adanya suara gemuruh pelan dari arah laut sebelum atau saat air surut.

Kepanikan Warga: Fenomena ini memicu kepanikan luar biasa. Warga yang melihat air surut langsung berhamburan berlarian ke perbukitan atau tempat yang lebih tinggi karena menyadari tanda-tanda bahaya tsunami.

3. Kondisi Laut Saat Potensi Tsunami

Anomali Muka Air Laut: BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut (tsunami) setinggi 0,30-0,35 meter di beberapa lokasi, termasuk Halmahera Barat dan Sidangoli.

Kondisi Gelombang: Air laut sempat mengalami siklus naik dan surut secara cepat/tidak normal.

Status Siaga: BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan status Siaga untuk wilayah Ternate, Halmahera, Tidore, dan Bitung, dengan perkiraan tinggi gelombang 0,5-3 meter.

Baca Juga: Satu Tewas dan Banyak yang Terluka Akibat Gempa Bumi di Ternate, Evakuasi Terus Dilakukan

Warga Mengungsi: Warga pesisir di Ternate dan Halmahera membangun tenda darurat di perbukitan karena khawatir akan adanya tsunami susulan.

Kerusakan Bangunan: Getaran kuat menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan, seperti di Gereja Kalvari di Pulau Batang Dua.

Antisipasi: BMKG terus memantau aktivitas gempa susulan (yang tercatat mencapai belasan kali) dan memperingatkan warga untuk menjauhi pantai.

Editor : Hariri HJ
#Air Laut Sempat Pasca Gempa #Warga Panik Takut Ada Tsunami #Namun Ombaknya Kecil #BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami