Halo Jember – Pemerintah Israel akhirnya merilis pernyataan resmi terkait kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang baru saja diumumkan.
Melalui laporan jurnalis Daniel De Simone langsung dari Yerusalem, Israel menyatakan dukungannya terhadap keputusan Presiden Donald Trump untuk menangguhkan serangan udara ke wilayah Iran.
Namun, dukungan ini diberikan dengan syarat yang sangat ketat dan mengikat bagi pihak Teheran.
Syarat Mutlak Pembukaan Jalur Energi Dunia
Israel menegaskan bahwa jeda perang selama 14 hari ini hanya berlaku jika Iran segera melakukan dua hal krusial:
-
Membuka Selat Hormuz secara total untuk lalu lintas pelayaran internasional tanpa gangguan.
-
Menghentikan seluruh serangan terhadap aset-amerika Serikat, wilayah Israel, serta negara-negara sekutu di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Israel juga menekankan komitmennya bersama AS untuk memastikan bahwa melalui negosiasi mendatang, Iran tidak lagi menjadi ancaman nuklir, rudal, maupun teror bagi dunia.
Lebanon Jadi Pengecualian: Perang Tetap Berlanjut
Satu poin yang paling mengejutkan sekaligus menjadi sorotan utama dalam pernyataan resmi tersebut adalah nasib wilayah Lebanon.
Israel secara tegas menyatakan bahwa gencatan senjata dua minggu ini tidak mencakup wilayah Lebanon.
Artinya, meskipun langit di atas Teheran mungkin akan tenang selama 14 hari ke depan, dentuman bom dan operasi militer Israel di perbatasan utara dipastikan akan terus berlanjut tanpa henti.
Langkah ini diambil Israel untuk tetap menekan kekuatan kelompok pendukung Iran di Lebanon yang dianggap sebagai ancaman langsung di depan pintu rumah mereka.
Target Negosiasi Mendatang
Amerika Serikat telah memberikan jaminan kepada Israel bahwa tujuan bersama untuk melucuti ancaman strategis Iran akan menjadi agenda utama dalam meja perundingan.
Para sekutu regional, termasuk negara-negara Arab yang bertetangga dengan Iran, juga dilaporkan berada dalam satu barisan untuk mendukung misi "Timur Tengah tanpa ancaman teror" tersebut.
Kini, dunia internasional melihat adanya "jeda bernapas" di Teluk Persia, namun kekhawatiran baru muncul terkait potensi eskalasi yang semakin hebat di Lebanon.
Banyak analis menilai bahwa dengan "dilepaskannya" tangan Iran dari konflik langsung selama dua minggu, Israel mungkin akan menggunakan kesempatan ini untuk menyelesaikan urusan militer mereka di wilayah utara secara lebih intensif.
Situasi di perbatasan Israel-Lebanon kini menjadi titik api paling rawan yang diprediksi akan terus membara, bahkan di saat dunia sedang merayakan gencatan senjata di Teheran.