Halo Jember – Tabir gelap di balik gugurnya tiga prajurit terbaik TNI yang menjalankan misi perdamaian UNIFIL di Lebanon akhirnya mulai terungkap.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, baru saja merilis hasil investigasi awal yang mengungkap penyebab pasti kematian para "Garuda" kebanggaan Indonesia tersebut.
Laporan ini memberikan gambaran yang sangat kontras terkait dua insiden maut yang terjadi dalam waktu yang berdekatan pada akhir Maret 2026.
Kopda Farizal: Ditembak Tank Merkava Israel di Pos PBB
Hasil investigasi awal memastikan bahwa Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon gugur pada 29 Maret 2026 akibat serangan langsung dari militer Israel.
PBB mengungkapkan bahwa proyektil yang mengenai posisi PBB 7-1 adalah peluru utama tank kaliber 120 mm yang ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Hal yang paling menyesakkan adalah informasi bahwa sebelum kejadian tersebut, UNIFIL sebenarnya telah memberikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada militer Israel pada tanggal 6 dan 22 Maret guna menghindari salah sasaran.
Mayor Zulmi & Serka Ichwan: Korban Ledakan Ranjau IED
Sementara itu, untuk insiden kedua yang terjadi pada 30 Maret 2026, investigasi PBB menemukan fakta yang berbeda. Mayor Anumerta Zulmi Aditya Iskandar dan Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan gugur akibat ledakan alat peledak rakitan atau Improvised Explosive Device (IED).
Ledakan tersebut dipicu oleh kawat penjerat (tripwire) yang aktif saat kendaraan mereka melintas. PBB menilai bahwa berdasarkan karakteristik ledakan dan lokasi kejadian, IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh kelompok Hizbullah.
Ibu Pertiwi Berduka: Pemakaman dengan Penghormatan Militer
Ketiga jenazah pahlawan perdamaian ini telah tiba di tanah air dan dimakamkan dengan upacara militer penuh pada Minggu, 5 April 2026:
-
Mayor Anumerta Zulmi Aditya Iskandar dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.
-
Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan dikebumikan di TMP Giridharmoloyo, Magelang.
-
Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon dimakamkan di TMP Giripeni, Kulon Progo.
Panglima TNI dan seluruh jajaran pemerintah menyampaikan belasungkawa terdalam, sementara Sultan Hamengku Buwono X secara khusus mendesak PBB untuk terus melakukan investigasi yang menyeluruh dan transparan hingga tuntas.
Teguran Keras dari PBB
PBB menegaskan bahwa setiap serangan terhadap penjaga perdamaian adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Saat ini, Dewan Penyelidikan telah dibentuk untuk mendalami lebih jauh konteks di balik dua peristiwa berdarah ini.
Gugurnya ketiga prajurit ini menjadi pengingat betapa tingginya risiko yang dihadapi pasukan perdamaian Indonesia di tengah krisis Timur Tengah yang sedang berada di titik didih.
Kini, Indonesia dan dunia menuntut akuntabilitas penuh agar nyawa para pahlawan perdamaian ini tidak hilang sia-sia di tengah kecamuk perang.