Halojember - Lonjakan harga minyak dunia kembali menghantui pasar global. Situasi ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan dampak langsung dari konflik yang mengganggu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Pusat perhatian kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur sempit yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Ketika jalur ini terganggu, dunia seolah kehilangan keseimbangan pasokan energi.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, secara terbuka memperingatkan bahwa harga minyak belum mencapai puncaknya. Ia menyebut tren kenaikan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
“Kita akan melihat harga energi tetap tinggi, bahkan mungkin terus meningkat sampai ada lalu lintas kapal yang berarti melalui Selat Hormuz. Puncaknya kemungkinan terjadi dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, distribusi minyak global mengalami gangguan besar.
Iran mengambil langkah drastis dengan membatasi hampir seluruh kapal asing yang melintas. Kebijakan ini langsung memicu ketegangan baru di kawasan.
Sebagai respons, Amerika Serikat memperluas blokade militernya hingga ke Teluk Oman dan Laut Arab. Situasi ini membuat jalur energi global semakin terjepit.
Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga minyak mentah melonjak tajam hingga menembus lebih dari 100 dolar AS per barel.
Kenaikan ini bukan sekadar angka di layar perdagangan. Ia membawa efek berantai pada biaya logistik, harga bahan bakar, hingga inflasi global.
Para analis bahkan menyebut pasar minyak kini berbalik dari surplus menjadi defisit. Gangguan pasokan membuat keseimbangan energi dunia terguncang.
Tak hanya itu, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari. Artinya, setiap gangguan kecil pun bisa berdampak besar secara global.
Kondisi ini membuat pasar bergerak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di kawasan tersebut. Sedikit saja kabar negatif, harga langsung melonjak.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengakui dampak ini bisa berlangsung cukup lama. Ia menyebut harga energi tinggi berpotensi bertahan hingga agenda politik domestik di negaranya.
“Ini mungkin akan bertahan hingga pemilu sela. Dampaknya memang besar dan tidak bisa dihindari,” demikian pengakuannya.*
Editor : Sidkin