JEMBER, Halo Jember – Jembatan gantung di Dusun Darungan, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi kembali terputus sejak Februari lalu akibat terjangan luapan Sungai Bedadung.
Infrastruktur vital ini hingga kini belum mendapatkan penanganan permanen meski pemerintah provinsi dilaporkan telah meninjau langsung ke lokasi.
Sebagian warga terpaksa menggunakan rakit bambu untuk menyeberangi sungai demi memangkas jarak perjalanan hingga lima kilometer.
Lumpuhnya akses ini menjadi perhatian serius jajaran legislatif karena merupakan urat nadi bagi mobilitas ekonomi dan pendidikan.
Baca Juga: Jembatan Gantung Jubung Jember Putus Lagi, Warga Terpaksa Memutar Jauh
Anggota Komisi C DPRD Jember, Agung Budiman, menyayangkan lambatnya respons pemerintah mengingat jembatan ini sudah dua kali mengalami kerusakan parah.
Ia pun mendorong agar pemerintah kabupaten tidak menutup mata terhadap kondisi ini. "Ini harus ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk penanganan jembatan yang sempat putus dua kali itu," ujar Agung.
Kekecewaan warga semakin memuncak karena selama ini upaya perbaikan jembatan hanya mengandalkan inisiatif dan dana swadaya masyarakat setempat.
Tanpa adanya bantuan alat berat atau anggaran dari pemerintah daerah, kekuatan jembatan darurat yang dibangun warga tentu sangat terbatas. Sehingga kembali hancur saat debit air meningkat.
Baca Juga: Jembatan Gantung Darus Putus Lagi Akibat Banjir Sungai Bedadung, Akses Ajung-Jubung Lumpuh Total
Keberadaan jembatan ini sangat mendesak karena menjadi satu-satunya jalan pintas bagi para pekerja dan siswa sekolah di Desa Jubung.
Jika akses ini putus total, maka warga harus memutar melalui jalur darat dengan jarak lebih dari 5 kilometer. Ini tentu menguras waktu serta biaya.
Kondisi ini sangat membebani masyarakat kelas bawah yang setiap hari harus melintasi jalur tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sebagai jalan keluar sementara yang penuh risiko, warga dan anak sekolah terpaksa menggunakan rakit bambu sederhana untuk menyeberangi Sungai Bedadung.
Meskipun berbahaya, pilihan ini tetap diambil daripada harus memutar jauh dengan berkendara motor. Namun, keselamatan mereka kini terancam karena arus sungai seringkali tidak terduga dan sangat kuat.
Legislator Golkar ini mengingatkan penggunaan rakit darurat yang dibuat secara manual oleh warga sangat riskan terhadap keselamatan nyawa.
Aliran Sungai Bedadung yang lebar dan dalam menuntut adanya standar keamanan tinggi yang tidak mungkin dipenuhi hanya dengan rakit bambu.
Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah agar segera merealisasikan pembangunan kembali jembatan sebelum jatuh korban jiwa akibat penyeberangan yang tidak layak.
"Kami mendesak agar segera ada perhatian khusus dari pemerintah. Baik infrastruktur jembatannya maupun keselamatan warga. Karena bagaimanapun juga ini menyangkut nyawa," pungkasnya.*
Editor : Sidkin