HALOJEMBER - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu lonjakan masif pada kebutuhan pangan nasional, di mana Indonesia kini memerlukan sedikitnya 24 juta hingga 82,9 juta butir telur per hari.
Kebutuhan ini melonjak drastis demi menjamin ketersediaan protein satu butir telur utuh harian bagi puluhan juta anak sekolah di seluruh penjuru negeri.
Berikut adalah rincian kalkulasi total kebutuhan pasokan telur pasca-implementasi program MBG:
Baca Juga: Pemerintah Impor Telur dari Cina untuk MBG, Benarkah? Simak Faktanya Agar Tidak Sesat Informasi
Rincian Kebutuhan Telur MBG Nasional
· Kebutuhan Per Hari: 82,9 juta butir (setara 5.000 ton telur sekali masak).
· Kebutuhan Per Bulan: 2,48 miliar butir (berdasarkan asumsi operasional penuh 30 hari).
· Kebutuhan Per Tahun: 30,25 miliar butir (akumulasi kebutuhan tahunan program).
Catatan: Porsi serapan mandiri dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat ini berkisar di angka 700 juta butir per bulan pada tahap awal operasional.
Merespons masifnya volume kebutuhan tersebut, beberapa pejabat tinggi negara memberikan instruksi dan penegasan strategis:
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan:
"Harga telur di tingkat peternak belakangan ini mengalami tekanan di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Kami telah berkoordinasi langsung dengan Badan Gizi Nasional atau BGN agar meningkatkan porsi dan frekuensi menu telur dalam program MBG. Langkah intervensi ini krusial untuk mendongkrak serapan pasar sekaligus menstabilkan harga demi melindungi kesejahteraan para peternak rakyat."
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana:
"Skala program nasional ini menuntut penguatan rantai pasok yang sangat kuat. Untuk mengamankan pasokan harian yang mencapai puluhan juta butir, Indonesia membutuhkan setidaknya 100 juta ekor ayam petelur aktif yang berproduksi secara konsisten. Kami memastikan rantai pasok ini berbasis pada peternak lokal di sekitar lokasi dapur satuan pelayanan."
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang:
"Kami telah menginstruksikan seluruh jajaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya di wilayah sentra seperti Jawa Timur, untuk mengoptimalkan pembelian telur lokal secara besar-besaran. Langkah ini dioptimalkan sebagai mesin penyerap surplus produksi telur nasional."
Editor : Hariri HJ