Halojember – Kalangan peternak ayam petelur nasional mendesak pemerintah meningkatkan frekuensi penggunaan telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi minimal dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Usulan itu mencuat dalam Rembug Nasional Peternak Petelur Rakyat Indonesia di Solo, Jawa Tengah.
Para peternak menilai langkah tersebut penting untuk menyerap surplus produksi nasional yang saat ini terus menekan harga telur di tingkat kandang.
Baca Juga: Pemerintah Impor Telur dari Cina untuk MBG, Benarkah? Simak Faktanya Agar Tidak Sesat Informasi
Secara nasional, produksi telur disebut telah mencapai sekitar 18 ribu ton atau setara 280 juta butir per hari.
Sementara kebutuhan ideal untuk mendukung program MBG diperkirakan mencapai 83,5 juta butir, tetapi realisasi penyerapannya dinilai belum maksimal.
Pengurus PINSAR Petelur Nasional, Suwardi, mengatakan kapasitas produksi peternak saat ini sebenarnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.
Persoalannya, serapan yang belum optimal membuat pasokan menumpuk di pasar.
“Produksi kami sudah cukup, tapi serapan MBG belum maksimal sehingga produksi over,” ujarnya.
Menurut dia, apabila telur dimanfaatkan lebih rutin dalam menu MBG, tekanan harga di tingkat peternak dapat berkurang dan harga bisa kembali bergerak di kisaran acuan.
Karena itu, peternak berharap pemerintah bisa menjadikan telur sebagai menu tetap setidaknya dua kali dalam sepekan.
“Kami minta MBG bisa menggunakan telur minimal dua kali seminggu agar harga bisa kembali sesuai acuan,” kata Suwardi.
Selain melalui MBG, peternak juga mendorong pemerintah memperluas penyerapan telur lewat program intervensi gizi ibu hamil serta penanganan stunting.
Suwardi mengingatkan, tanpa langkah penyerapan yang lebih terukur, surplus produksi berpotensi terus menekan harga dan memperberat beban peternak rakyat.
“Kalau penyerapan tidak ditingkatkan lewat berbagai program, produksi yang over ini akan terus menekan harga,” pungkasnya.