HALOJEMBER - Tak terlalu sulit, namun juga tidak mudah, untuk mencapai Balai Ternak Binaan Baznas yang berada di ujung utara Kabupaten Jember. Lokasinya persis di perbatasan Jember dan Bondowoso, hanya dipisahkan oleh aliran sungai. Dari titik nol kota Jember di sekitar alun-alun, jaraknya sekitar 45 kilometer.
Di kawasan Kampung Zakat Terpadu itulah balai ternak dibangun dan dikembangkan. Awalnya tentu tidak mudah. Namun justru pada masa-masa awal itulah sebuah kisah epik membekas lahir dari para peternaknya.
Mereka adalah warga kurang mampu. Masuk kategori mustahik, penerima zakat. Melalui kolaborasi BAZNAS RI dan BAZNAS Kabupaten Jember, sebagian dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun diwujudkan menjadi kandang, bibit domba, serta berbagai sarana pendukung peternakan.
Para mustahik diajak bermusyawarah, diberi pelatihan, dan didampingi untuk mengelola usaha ternak domba secara profesional. Sekitar empat bulan menjelang Iduladha tiga tahun lalu, program itu resmi berjalan.
Kelompok Raung Mandiri memilih fokus pada usaha penggemukan domba. Mereka membidik pasar Iduladha. Keuntungan geografis menjadi salah satu kekuatan utama. Kandang sengaja dibangun dekat kawasan hutan lereng Raung sehingga kebutuhan pakan sangat melimpah.
Para peternak tidak perlu membeli rumput atau hijauan pakan. Mereka cukup masuk ke kawasan sekitar hutan dan pulang membawa berbagai jenis pakan segar yang tersedia melimpah.
Kerja keras itu membuahkan hasil. Iduladha tiga tahun lalu menjadi momen yang sulit dilupakan. Harga domba sedang bagus. Bahkan ketika BAZNAS membeli kembali domba hasil ternak mereka untuk kebutuhan kurban, standar harga yang digunakan mengacu pada harga di Jakarta.
"Kami memakai standar harga Jakarta waktu itu. Jadi harga per kilogramnya cukup tinggi," ujar Abdul Azis, Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Jember.
Keuntungan yang diperoleh para peternak pun cukup besar. Dalam hitung-hitungan sederhana, penghasilan yang mereka terima bahkan sempat melampaui UMR Jember saat itu.
Namun bukan besarnya keuntungan yang membuat para pengelola program terharu. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga. "Yang membuat kami bangga sekaligus terharu, keuntungan itu tidak mereka ambil seluruhnya. Mereka menyisihkan sebagian untuk berinfak ke BAZNAS. Padahal mereka adalah penerima zakat," lanjut Azis.
Mereka yang selama ini menerima uluran tangan justru ingin ikut mengulurkan tangan kepada orang lain. Mereka yang hidup pas-pasan justru tidak ingin seluruh rezekinya dinikmati sendiri. Mereka memahami bahwa keberkahan tidak hanya datang dari menerima, tetapi juga dari memberi.
BAZNAS Jember memang memiliki cita-cita besar: mengubah mustahik menjadi muzakki. Mengantarkan penerima zakat agar suatu hari mampu menjadi orang yang mengeluarkan zakat. Balai ternak hanyalah salah satu jalannya. Selain itu, ada pula program Z Chicken, Z Mart, Z Coffee, dan berbagai program pemberdayaan ekonomi lainnya.
Kini tiga tahun telah berlalu. Perjalanan balai ternak tidak selalu mulus. Harga domba yang sempat anjlok membuat sebagian peternak kehilangan semangat, bahkan ada yang memilih mundur.
"Pasar domba yang redup memang sempat memukul semangat mereka. Namun Alhamdulillah kami terus berupaya agar program ini tetap berjalan," kata Amiruddin, Wakil Ketua III BAZNAS Jember sekaligus tokoh Kampung Zakat Terpadu.
Iduladha tahun ini keuntungan yang diperoleh tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena dombanya tidak laku, melainkan karena harga pasar sedang rendah. "Harga tertinggi hanya sekitar Rp 50 ribu per kilogram. Itupun sulit jualnya," jelas Amiruddin.
Beruntung, BAZNAS masih membeli dengan harga yang lebih baik dibanding harga pasar. Meski demikian, tidak semua domba hasil ternak dapat terserap sehingga sebagian harus dijual ke pasar dengan harga yang lebih murah.
Namun di tengah situasi itu, ada satu hal yang tidak berubah. Para peternak tetap berinfak.
"Kadang kami justru merasa malu. Mereka penerima zakat, tetapi masih ingat berinfak. Sedangkan kita yang lebih mampu kadang masih lupa," ujarnya sambil tersenyum.
Dan, inilah pelajaran paling berharga dari sebuah balai ternak di pelosok utara Jember. Bahwa berbagi tidak menunggu kaya. Bahwa kepedulian tidak lahir karena berlebih.
Dan bahwa tangan yang pernah menerima bantuan ternyata bisa menjadi tangan pertama yang tergerak membantu orang lain. Jumlahnya bisa jadi tidak besar. Namun nilai yang terkandung di dalamnya jauh melampaui angka.
Sebab ketika seseorang yang hidup dalam keterbatasan masih mau menyisihkan sebagian rezekinya untuk orang lain, sesungguhnya ia sedang mengajarkan makna kekayaan yang sesungguhnya. (ms rasyid)
Editor : Hariri HJ