HALOJEMBER - Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik Nanik S. Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) di Istana Negara, Senin (8/6/2026).
Nanik yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, kini memimpin penuh lembaga ini didampingi dua wakil kepala baru, yaitu Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono.
Dalam pernyataan perdana seusai pelantikan, Nanik menyampaikan rasa syukur sekaligus mengakui bahwa tugas baru ini merupakan tanggung jawab yang amat berat.
Ia meminta doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar bisa menjalankan program prioritas pemerintah dengan transparan dan akuntabel.
"Ini amanah dan tanggung jawab yang amat sangat besar serta berat buat saya. Fokus utama kami adalah memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan gizi terbaik dan membangkitkan ekonomi rakyat lewat Makan Bergizi Gratis (MBG)," ujar Nanik.
Rencana Kerja dan Gebrakan Baru BGN
Nanik menegaskan akan langsung melakukan langkah strategis dan efisiensi ekstrem dalam tata kelola program MBG. Berikut adalah poin-poin utama yang akan dilakukan Nanik setelah menjabat:
· Utamakan Kualitas dibanding Kuantitas
Nanik menyatakan bahwa pada tahun 2026, BGN tidak akan mengejar target kuantitas jumlah penerima secara membabi buta. Fokus utama diarahkan pada peningkatan standar kualitas makanan agar benar-benar sehat dan bergizi seimbang.
· Pengalihan Anggaran (Refocusing) ke Daerah 3T
BGN akan mengevaluasi keterlibatan sekolah-sekolah elite atau mahal dalam program ini. Alokasi anggaran untuk sekolah mahal akan dipangkas dan dialihkan langsung ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang lebih membutuhkan.
· Fokus pada Program Intervensi 3B
Prioritas sasaran penerima manfaat akan ditekankan pada kelompok 3B, yaitu Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita. Berdasarkan masukan para dokter anak, intervensi gizi paling efektif dimulai sejak bulan pertama kandungan hingga anak usia sekolah dasar (SD).
· Moratorium dan Evaluasi Dapur Masak
BGN menghentikan sementara (moratorium) pendaftaran dan pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru. Nanik memilih untuk membenahi dan mengaudit sekitar 27.000 dapur operasional yang sudah ada guna memastikan kepatuhan terhadap standar kebersihan dan gizi.
· Eksplorasi Pendanaan Non-APBN
Demi menjaga kesinambungan program tanpa membebani kas negara, BGN akan mencari alternatif pembiayaan di luar APBN. Langkah ini mencakup optimalisasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) BUMN, investasi swasta, hingga dana hibah filantropi luar negeri.
Langkah tegas Nanik ini didukung penuh oleh pihak Istana. Karakter Nanik yang disiplin, ketat terhadap SOP, serta pengalamannya melakukan monitoring langsung di lapangan diharapkan mampu membersihkan tata kelola BGN dari celah penyimpangan.
Editor : Hariri HJ