HALOJEMBER - Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM., Rektor UIN KHAS Jember, dikenal luas bukan hanya sebagai pejabat kampus yang visioner, melainkan sebagai sosok bersahaja yang meruntuhkan sekat formalitas antara pimpinan, dosen, dan mahasiswa.
Kepergian almarhum yang mendadak pada Jumat, 19 Juni 2026 pukul 00.30 WIB di RSUD dr. Soebandi Jember menyisakan duka mendalam sekaligus warisan keteladanan tentang kesederhanaan dan kepedulian kemanusiaan.
Berikut adalah reportase mendalam mengenai sisi lain kehidupan Prof. Hepni di luar jabatan akademisnya.
Baca Juga: Rektor UIN KHAS Jember Prof. Hepni Meninggal Sebelum Subuh, Dunia Pendidikan Berduka
1. Rumah di Dalam Gang dan Pintu yang Selalu Terbuka
Meskipun menjabat sebagai orang nomor satu di UIN KHAS Jember, Prof. Hepni memilih untuk tetap tinggal di lingkungan masyarakat biasa.
Rumah duka almarhum bertempat di Gang Masjid Baitul Muttaqin, Curah Kendal, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember. Keputusannya menetap di dalam gang perkampungan mencerminkan kepribadiannya yang enggan berjarak dengan warga sekitar.
Pintu rumahnya dikenal selalu terbuka, baik bagi tetangga yang membutuhkan bantuan maupun mahasiswa yang ingin berdiskusi santai.
Baca Juga: Kabar Duka: Rektor UIN KHAS Jember Prof Hepni Meninggal Dunia di RSD dr Soebandi
2. "Bapak" yang Hangat bagi Mahasiswa
Di mata para mahasiswa, Prof. Hepni tidak pernah memosisikan dirinya sebagai pejabat yang kaku atau sulit ditemui.
Ia kerap meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk menyapa mahasiswa langsung di area kampus, mendengarkan keluh kesah mereka, dan memberikan dorongan moral.
Berdasarkan kesaksian para mahasiswa, almarhum adalah figur yang selalu menanamkan optimisme tinggi agar anak-anak muda dari daerah berani bermimpi besar dan menembus keterbatasan.
3. Santri Kelahiran Sumenep yang Setia pada Akar Rumput
Prof. Hepni merupakan putra asli kelahiran Sumenep, Madura, dan merupakan bagian dari jaringan alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk.
Latar belakang pesantren inilah yang membentuk karakter kepemimpinannya yang kental dengan nilai-nilai tawadu (rendah hati) dan pengabdian tanpa pamrih.
Dedikasinya dalam menyokong pendidikan berbasis pesantren dan kesetaraan akses edukasi bagi masyarakat kecil menjadikannya dihormati oleh para kiai dan tokoh agama di wilayah tapal kuda.
Editor : Hariri HJ