HALO JEMBER - Mereka bertetangga. Rumahnya sebelahan. Sama-sama menghadap kiblat. Sama-sama membaca Al-Qur’an. Sama-sama mengaku membela umat. Bedanya, satu punya jet tempur, satu punya drone dan rudal.
Lalu pertanyaannya sederhana, sebenarnya mereka memperebutkan apa? Kalau jawabannya surga, kok jalannya lewat rudal?
Per 16 September 2026, konflik Houthi Ansar Allah melawan Arab Saudi dan pasukan pemerintah Yaman didukung Riyadh kembali meledak. Gencatan senjata informal sejak 2022 relatif meredakan perang kini seperti gelas kopi jatuh dari meja, pecah berantakan.
Baca Juga: Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta: Kenali Karakter, Rasa, dan Kandungannya
Houthi bergerak cepat di pesisir Laut Merah. Mereka merebut Mokha, kemudian mencapai Pulau Perim (Mayun) di Selat Bab el-Mandeb, disusul pulau-pulau Hanish. Ini bukan sekadar rebutan tanah. Bab el-Mandeb adalah salah satu titik pelayaran paling strategis di dunia. Siapa menguasai kawasan ini punya kartu besar terhadap kapal, minyak, perdagangan, serta urat nadi ekonomi global.
Nah, di sinilah teori konspirasi global mulai menyeruput kopi. Perang kelihatan seperti perang agama, tetapi minyak ikut antre di kasir.
Houthi menembakkan drone dan rudal ke wilayah Saudi, termasuk sasaran militer dan infrastruktur energi. Saudi membalas dengan serangan udara besar-besaran ke wilayah Yaman. Reuters melaporkan Houthi menyebut serangan Saudi mencapai ratusan kali dalam beberapa hari. Houthi juga mengklaim menyerang fasilitas energi dan pangkalan militer Saudi.
Baca Juga: Indonesia dan Arab Saudi Hari Raya Idul Adha Bersamaan, Rabu 27 Mei 2026
Minyak pun ikut deg-degan. Sebuah jalur pipa strategis Saudi sempat ditutup setelah serangan drone. Sementara gangguan di Bab el-Mandeb membuat jalur perdagangan dan ekspor minyak semakin rentan. Harga minyak dunia ikut melonjak.
Jadi kalau ada orang bilang, “Ini cuma perang dua kelompok,” mungkin dia belum melihat peta. Di belakang peta ada Iran. Di belakang minyak ada pasar dunia. Di belakang jalur pelayaran ada kepentingan negara-negara besar.
Di belakang semuanya, rakyat Yaman tetap menjadi rakyat Yaman. Yang rumahnya hancur, mengungsi, kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarga.
Yang paling absurd justru muncul pada 15 September. Saudi mengatakan pertahanan udaranya menghancurkan drone Houthi di selatan Mekkah, sebelum masuk wilayah udara terlarang. Riyadh menyebut keselamatan Mekkah sebagai “garis merah”. Houthi membantah menargetkan Mekkah dan menyebut tuduhan itu propaganda.
Waduh, Houthi membantah, lalu drone siapa itu?
Kalau drone itu benar, mengapa tempat suci dijadikan sasaran? Kalau tidak benar, mengapa Mekkah sampai masuk ke dalam perang narasi?
Di sinilah perang modern semakin aneh. Rudal punya hulu ledak. Drone punya kamera. Tetapi propaganda punya satu senjata lebih hebat, emosi manusia.
Hari ini orang berteriak, “Ini demi agama!” Besok harga minyak naik. Lusa ongkos kapal naik. Minggu depan harga barang di negara lain ikut naik.
Sementara rakyat biasa di Pontianak mungkin cuma bertanya, “Kok perang di Arab, harga barang di warung kami ikut batuk?”
Lebih absurd lagi, Houthi juga mengklaim menembak jatuh jet F-15 Saudi di Marib. Klaim itu belum dikonfirmasi Riyadh. Perang ini seperti laga sepak bola, tetapi wasitnya tidak kelihatan, bolanya minyak, lapangannya Laut Merah, dan penontonnya seluruh dunia.
Ironisnya, mereka masih bertetangga. Sama kiblat. Sama kitab suci. Tetapi berbeda kepentingan politik, aliansi dan kekuasaan. Mungkin inilah tragedi terbesar Timur Tengah. Agama sama, tetapi tafsir kepentingan berbeda. Ketika kepentingan sudah masuk kokpit jet tempur, ayat yang dibaca di masjid bisa kalah cepat dengan rudal melesat dari langit.
“Bang, di Selat Hormuz sudah dicegat Iran. Di Laut Merah dicegat Houthi. Kasihan dong minyak Saudi tak bisa dijual keluar. Saudi bisa bangkrut, dunia bisa semakin tercekik.”
“Kira-kira begitulah. Kita hanya menonton dari kejauhan sambil seruput Koptagul, wak!”
Penulis: Rosadi Jamani
Editor : Hariri HJ