Bukan Pejuang, Bukan Aparat: Warga Sipil Jadi Korban Kekerasan KKB

Viona Rj • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 16:45 WIB
Personel gabungan mengevakuasi jenazah Aris Sanda, sopir asal Toraja yang menjadi korban penembakan KKB di kawasan Habema, Jayawijaya, Papua Pegunungan. (ANTARA)
Personel gabungan mengevakuasi jenazah Aris Sanda, sopir asal Toraja yang menjadi korban penembakan KKB di kawasan Habema, Jayawijaya, Papua Pegunungan. (ANTARA)

 

HALO JEMBER – Mereka pergi bekerja, membawa bantuan, mengantar penumpang, atau menjalani aktivitas sehari-hari. 

Namun dalam beberapa hari terakhir, warga sipil di Papua Pegunungan kembali menjadi korban kekerasan kelompok bersenjata.

Rangkaian kejadian itu kemudian ramai dibicarakan di media sosial X. 

Sejumlah pengguna menyoroti korban yang disebut sebagai warga biasa dan mempertanyakan situasi keamanan di Papua.

Salah satu unggahan di X menuliskan, “KABAR DUKA DARI PAPUA..!”, disertai informasi mengenai penembakan terhadap sosok Aris Sanda di jalur Wamena-Mbua.

Percakapan di X tidak hanya menyoroti satu korban dari kekerasan KKB. 

Sejumlah unggahan lain juga membagikan dokumentasi korban serta keluarga yang ditinggalkan, menggambarkan bagaimana kekerasan di wilayah tersebut berdampak kepada masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Dari Sopir hingga ASN

Aris Sanda menjadi salah satu korban terbaru, Ia merupakan sopir yang telah melayani transportasi masyarakat di jalur Wamena-Mbua selama belasan tahun.

Menurut keterangan aparat, Aris dihentikan kelompok bersenjata ketika membawa penumpang pada 15 September 2026.

Penumpang kemudian diperintahkan kembali menuju Wamena, sementara Aris dibawa oleh kelompok tersebut. 

Jenazah Aris kemudian ditemukan bersama kendaraannya yang terbakar, aparat masih mendalami kelompok yang terlibat dalam kejadian tersebut.

Namun, Aris bukan satu-satunya warga sipil yang menjadi korban.

Sebelumnya, tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawija tewas dalam penembakan di Distrik Muliama pada 9 September 2026. 

Ketiganya saat itu sedang dalam perjalanan kembali ke Wamena.

Dalam kasus tersebut, aparat menyebut rombongan pegawai Dinas Pertanian yang berjumlah 11 orang sempat dihadang kelompok bersenjata.

Bukan hanya itu, masih banyak warga sipil lainnya yang menjadi korban kekerasan KKB.

Kisah para korban menunjukkan wajah lain dari konflik Papua. 

Mereka bukan orang yang datang untuk bertempur, mereka adalah pekerja yang menjalankan tugas dan warga yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup

Warga Biasa yang Berada di Tengah Konflik

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa dampak konflik tidak berhenti pada korban yang meninggal. 

Keluarga kehilangan anggota keluarga, pekerja kehilangan rekan, sementara masyarakat juga menghadapi terganggunya akses transportasi dan pelayanan di wilayah mereka.

Di media sosial X, narasi mengenai korban sipil terus bermunculan, ada yang membagikan foto, video, hingga kisah keluarga korban. 

Salah satu unggahan bahkan menampilkan sejumlah wajah korban dan keluarga dalam satu kolase, seolah mengingatkan bahwa setiap peristiwa kekerasan memiliki manusia yang berada di baliknya.

Bagi masyarakat yang hidup dan bekerja di wilayah tersebut, persoalan keamanan bukan hanya tentang operasi aparat atau pengejaran kelompok bersenjata. 

Ada aktivitas sehari-hari yang ikut dipertaruhkan: perjalanan menuju tempat kerja, membawa bantuan kepada warga, mengangkut kebutuhan pokok, hingga pulang ke rumah menemui keluarga.

Di tengah konflik yang melibatkan kelompok bersenjata, warga biasa justru berada pada posisi yang rentan. 

Mereka tidak membawa senjata, tetapi dapat ikut menanggung kehilangan, ketakutan, dan terputusnya kehidupan sehari-hari. (MG/MF)


 

 

Editor : Viona Rj
KKB Warga Sipil kekerasan papua