HALO JEMBER - Arab Saudi sedang pusing tujuh keliling menghadapi Houthi. Ke sana ke mari minta bantuan. Padahal, Houthi itu jari kelingking, tapi sangat merepotkan. Sejumlah negara sudah dimintai bantuan. Cuma, Indonesia saja yang belum. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Negara MBS itu sudah minta bantuan ke Amerika. Israel dilirik. Mesir dipanggil. Pakistan ditanya. Inggris diketuk. Prancis disapa. Turki diajak bicara. Terbaru, China dimintai bantuan.
China, wak! Negara komunis! Kalau begini terus, sebentar lagi Riyadh mungkin membuat loket bantuan internasional “Nomor 38, silakan ke Beijing.”
Reuters melaporkan, 17 September 2026, Saudi meminta bantuan China setelah Houthi membuat kemajuan cepat di pesisir Laut Merah dan kawasan Selat Bab el-Mandeb. Kemajuan itu semakin mengancam ekspor minyak Saudi.
Beijing kemudian dilaporkan meminta Iran menggunakan pengaruhnya terhadap Houthi agar konflik tidak meluas ke jalur energi yang sangat penting bagi China. Maka terbentuklah rantai diplomasi paling unik abad ini. Saudi → China → Iran → Houthi.
Houthi mungkin sedang ngopi sambil bertanya, “Kenapa semua orang sibuk membicarakan saya?”
Baca Juga: Padahal Sama-sama Islam, Lantas Kapan Arab Saudi dan Houthi Tak Berhenti Saling Membunuh?
Menurut Reuters, China secara resmi menyerukan penahanan diri, penghormatan terhadap kedaulatan, perlindungan fasilitas vital, serta penyelesaian melalui dialog. Namun diplomasi di belakang layar disebut jauh lebih aktif.
Di depan kamera, “Mari berdialog.” Di belakang kamera: “Bro, tolong Houthi ditenangkan.” Masalahnya, Saudi ternyata tidak cuma meminta bantuan dua-tiga negara.
AP melaporkan Riyadh meminta Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir memberikan dukungan pertahanan udara untuk menghadapi rudal dan drone Houthi serta kelompok yang didukung Iran. Salah satu persoalannya adalah stok interceptor Saudi menipis. Sementara persediaan Amerika juga tertekan karena perang dengan Iran.
Jadi Saudi sekarang bukan mencari minyak. Sedang mencari interceptor. Rudal datang, interceptor pergi. Interceptor menipis, telepon berdering.
“Hello Paris?”
“Hello London?”
“Islamabad?”
“Cairo?”
“Beijing?”
Ini sudah seperti customer service pertahanan udara internasional.
Inggris memiliki hubungan pertahanan erat dengan Saudi. Pakistan juga berada dalam posisi unik karena mempunyai hubungan dengan Riyadh sekaligus Teheran. Turki pun masuk dalam kalkulasi regional.
Pada Juli 2026, Saudi mendorong kerja sama pertahanan maritim untuk Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Upaya itu mendapat dukungan sejumlah negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Nigeria dan negara Arab-Afrika lainnya, untuk membantu menjaga pelayaran Laut Merah.
Namun ketika krisis Houthi meningkat, Turki dan Pakistan dilaporkan belum menerima permintaan bantuan militer langsung berdasarkan pakta pertahanan mereka dengan Saudi.
Sementara itu, Amerika Serikat juga sedang sibuk dengan Iran.
Financial Times melaporkan Washington menolak memberikan dukungan udara langsung kepada Saudi karena fokusnya tertuju pada perang dengan Iran. Axios juga melaporkan Donald Trump menolak permintaan MBS untuk menyerang Houthi. Meski begitu, AS tetap berkomunikasi dengan Riyadh dan lebih dari 100 penasihat militer AS dilaporkan telah berada di Saudi.
Maka peta geopolitiknya semakin mirip benang kusut. Amerika punya kekuatan. China punya kepentingan energi. Iran punya pengaruh terhadap Houthi. Saudi punya minyak. Houthi punya kemampuan mengganggu jalur pelayaran.
Semua punya kepentingan. Semua menghitung. Semua bicara. Houthi? Terus bergerak. Ini bukan lagi domino geopolitik. Ini domino yang dilempar dari lantai 30.
Kapan Saudi meminta bantuan Indonesia? Amerika sudah ditanya, Israel dilirik, Mesir, Pakistan, Inggris, Prancis, Turki dan China sudah masuk radar. Indonesia kok belum? Mungkin Riyadh belum tahu kita punya keahlian khusus. Diplomasi santun, musyawarah, dan rapat sampai semua peserta lupa persoalan awal. Kalau nanti telepon dari Riyadh benar-benar masuk, jangan langsung kirim pasukan. Kirim dulu tim pencari solusi, lengkap dengan notulen, konsumsi dan kopi. Houthi mungkin berhenti menembak bukan karena takut, tetapi karena bingung melihat delegasi Indonesia datang membawa map, spanduk, dan undangan “Dialog Perdamaian Laut Merah.”
Penulis: Rosadi Jamani #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM
Editor : Hariri HJ