Halo Jember - Sesama Islam saling membunuh semakin ramai. Houthi vs Arab Saudi sudah bikin sedih. Ini lebih parah, orang lagi salat di masjid, dibom. Ada 31 jamaah tewas. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Jumat, 18 September 2026, sekitar pukul 13.15 waktu setempat. Di Old Police Lines, Kohat, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, jemaah sedang menunaikan salat Jumat. Tiba-tiba sebuah kendaraan bermuatan bahan peledak dihantamkan ke pintu masuk kompleks masjid. Boom!
Masjid berguncang. Tembok kompleks runtuh. Debu naik ke udara. Orang-orang beberapa detik sebelumnya sedang berdoa mendadak berlari mencari anak, keluarga, teman, dan mungkin jalan keluar dari neraka dunia.
Tetapi neraka belum selesai. Setelah ledakan utama, sekitar tujuh hingga delapan penyerang bersenjata mencoba menyusup ke kompleks yang menampung Counter Terrorism Department dan Special Branch. Baku tembak pecah. Ledakan tambahan terdengar di sekitar gedung Special Branch.
Nuan bayangkan. Masjid sedang penuh orang salat, tetapi halaman kompleks berubah menjadi medan perang.
Korban awal dilaporkan 21 orang, termasuk 15 polisi. Di antara tewas terdapat SP Traffic Akbar Shinwari dan dokter senior Israel Khan Orakzai. Lebih dari 100 orang terluka. Namun angka korban kemudian bergerak. Laporan AFP pada 19 September menyebut sedikitnya 31 orang tewas, termasuk 16 polisi.
Angka kematian di sini bukan statistik biasa. Setiap angka adalah seseorang yang pagi harinya mungkin masih sempat minum teh, mencium anak, bercanda dengan kolega, lalu pergi salat Jumat. Beberapa jam kemudian namanya berubah menjadi daftar korban.
Lalu muncul bab paling gelap, siapa pelakunya?
Kelompok Ittehadul Mujahideen Pakistan, yang dipimpin Hafiz Gul Bahadur dan terkait jaringan Tehrik-e-Taliban Pakistan, mengklaim bertanggung jawab. Namun TTP menyangkal keterlibatan. Polisi Pakistan menyebut kelompok semacam itu sebagai Fitna-al-Khawarij.
Nah, di sinilah teori konspirasi mulai berdansa.
Kalau benar kelompok A, mengapa kelompok B menyangkal? Kalau jaringan mereka saling berkaitan, siapa sebenarnya yang memberi perintah? Siapa penyandang dana? Siapa penyedia senjata? Siapa yang menyediakan tempat berlindung? Apakah semua ini sekadar aksi teror, atau bagian dari permainan lebih besar di perbatasan Afghanistan-Pakistan?
Pertanyaan boleh beranak-pinak. Tetapi jangan buru-buru menjadikannya fakta. Sebab teori konspirasi tanpa bukti hanyalah asap tambahan di atas reruntuhan. Yang sudah jelas, Pakistan menuduh kelompok militan mendapat tempat aman di Afghanistan. Sementara pihak Afghanistan menolak tuduhan tersebut. Ketegangan perbatasan pun terus membara.
Pasukan polisi, CTD, Elite Force dan tentara kemudian melakukan operasi pembersihan sekitar 20–21 jam. Pada Sabtu, 19 September, operasi dinyatakan selesai. Delapan teroris dilaporkan tewas.
Presiden Asif Ali Zardari mengecam. Perdana Menteri Shehbaz Sharif memerintahkan penyelamatan dan perawatan korban dipercepat. Pemerintah berjanji memburu jaringan dan fasilitatornya.
Tetapi ada satu ironi lebih tajam dari serpihan bom. Para korban sedang salat. Para pembunuh mengaku berjuang atas nama agama.
Mereka seolah lupa, orang yang dahinya menyentuh sajadah bukan musuh Tuhan.
Mungkin tragedi terbesar Kohat bukan hanya masjid hancur. Tragedinya adalah ketika manusia begitu yakin dirinya sedang membela Tuhan, sampai merasa berhak membunuh manusia sedang menyembah Tuhan.
Di sana, bom bukan cuma menghancurkan tembok. Bom menghancurkan logika. Peluru bukan cuma menembus tubuh. Peluru menembus akal sehat.
"Bang, sedih rasanya. Padahal, mereka sama-sama teriak Allahu Akbar."
"Begitu murahnya nyawa, wak. Kita beruntung, tak ketemu Islam ala suka ngebom. Di sini Islam ala...." Ups. Selamat Malam Minggu semua.
Penulis; Rosadi Jamani #camanewak #jurnalismeyangmenyapa #JYM
Editor : Hariri HJ